Khotbah Perjanjian Baru

Lapar dan Haus akan Kebenaran

Lapar dan Haus akan Kebenaran

Matius 5:6

oleh: Jenny Wongka †

Judul di atas merupakan salah satu dari Delapan Ucapan Bahagia yang diucapkan oleh Yesus pada Khotbah di Bukit. Ucapan Bahagia ini berbicara mengenai suatu keinginan atau hasrat yang kuat dari jiwa seseorang. Ini harus dilakukan dengan adanya sebuah ambisi positif dalam diri orang itu. Obyek keinginan jiwa itu ditujukan kepada Tuhan yang dihormati, yang dipatuhi tatkala orang itu turut ambil bagian di dalam kebenaran-Nya. Ambisi kudus ini sangat bertentangan dengan ambisi umum manusia yang hanya mengejar ambisi untuk meraih tujuan duniawi serta kepuasan diri semata.

Dalam ayat bacaan kita ini, Yesus mengungkapkan keinginan yang paling utama bagi manusia, yaitu rasa lapar dan haus akan kebenaran. Ini adalah suatu keinginan spiritual manusia yang menuntun orang itu ke dalam keselamatan serta menjaga dia agar tetap berdiri teguh dan setia di dalam Kerajaan Allah. Dan hanya ambisi mulia ini pula yang akan menjadikan orang tersebut bahagia. Melalui ucapan bahagia yang keempat ini, kita akan menyimak pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya.

Rasa Lapar dan Haus Akan Kebenaran Adalah Sebuah Keharusan

Rasa lapar dan haus menggambarkan kebutuhan hidup jasmani manusia yang harus dipenuhi. Dalam hal rohani, Yesus menganalogikan kedua kebutuhan vital manusia itu akai di sini untuk menegaskan bahwa kebenaran adalah sebuah keharusan bagi kehidupan rohani yang sama pentingnya dengan makan dan minum bagi kesehatan tubuh kita. Kebenaran bukanlah sebuah pilihan atau kebutuhan sekunder yang dapat dipenuhi sewaktu-waktu jika perlu atau tidak sama sekali jika kita merasa tidak memerlukannya. Kebenaran adalah kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi.

Anda masih ingat dengan kisah terjadinya masa kelaparan yang berkepanjangan di Mesir pada zaman pemerintahan Yusuf? Mungkin jauh sebelum masa itu, dunia kita ini sudah sering dilanda bencana kelaparan. Roma pernah mengalami hal ini pada tahun 436 SM, bala kelaparan dahsyat ini telah mengakibatkan ribuan orang mencari jalan pintas dan bunuh diri massal dengan terjun ke Sungai Tiber, mati tenggelam karena tidak sanggup menahan lapar yang berkepanjangan. Bencana kelaparan yang sama juga melanda negara Inggris pada tahun 1005, bahkan seluruh daratan Eropa dilanda kelaparan pada tahun 879, 1016, dan 1162. Pada abad ke-21 ini, ketika teknologi pertanian semakin berkembang pesat, ternyata dunia ini masih saja tidak terluput dari bencana kelaparan. Beberapa tahun yang lalu, CNN International menayangkan kondisi bencana kelaparan di Afrika. Bahkan menurut statistik terakhir yang mereka miliki, dalam jangka waktu 100 tahun ini jutaan manusia di seluruh dunia telah meninggal akibat bencana kelaparan, atau karena berbagai penyakit yang berhubungan dengan kekurangan gizi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *