Renungan

Lebih Nikmat

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya.

(Amsal 25:16)

Saya sangat menikmati makan kepiting. Mulai dari kepiting rebus, kepiting asap, kepiting asam manis sampai kepiting telur asin. Suatu kali seorang penatua mentraktir saya makan kepiting. Ia memilih beberapa kepiting dan memberikannya kepada pegawai restoran untuk dimasak. Ketika saya menghabiskan satu porsi kepiting, penatua itu menyodorkan porsi yang kedua. Hmm … sangat nikmat! Saat porsi yang ketiga disodorkan, saya sudah merasa  kenyang. Perlahan-lahan saya memaksa diri menghabiskan kepiting yang ketiga. Kepiting keempat? Saya menyerah. Perut saya sudah penuh, kepiting itu tak lagi terasa nikmat.

“Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya” (Amsal 25:16). Amsal ini mengajarkan pentingnya rasa cukup. Perut kita mempunyai daya tampung terbatas. Apabila kita memaksa diri, rasa nikmat madu atau kepiting itu lenyap dan berubah menjadi rasa mual, dan tak jarang akhirnya kita muntah. Sesuatu yang berlebihan makin berkurang kenikmatannya.

Perut kita mempunyai batas daya tampung, tetapi tidak demikian dengan hati dan pikiran kita. Hati dan pikiran acapkali tidak pernah puas dan selalu ingin mendapatkan yang lebih lagi. Bukan sekadar tentang makanan, melainkan juga tentang harta benda. Kerakusan yang tak terkendali pada akhirnya justru membuat kita tidak dapat menikmati apa yang kita miliki.

Belajarlah mencukupkan diri dalam segala hal. Di dalam rasa cukup, syukur kita meluap dan hidup pun menjadi lebih nikmat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *