Renungan Berjalan bersama Tuhan

Lengket Kayak Perangko

Lengket Kayak Perangko

oleh: Pdt. Nathanael Channing

Kisah Para Rasul 20:17-38

Lengket kayak perangko”, demikianlah bahasa iklan yang sering kita dengar. Memang secara tidak sadar, orang yang terus-menerus memiliki relasi yang dekat sampai lengket kayak perangko, sulit dipisahkan. Bahasa iklan itu hendak mengatakan bahwa kalau sudah lengket, melekat, sudah dekat sekali, maka relasi itu sulit dipisahkan. Bukankah relasi suami isteri demikian, juga hubungan orangtua-anak, sahabat karib, sanak famili dan sebagainya? Demikian pula dalam pelayanan. Relasi yang dekat antara pendeta atau hamba Tuhan dengan jemaat, relasi antar penatua, pengurus komisi, panitia, tim, dan kelompok-kelompok kecil. Bila relasi mereka itu sudah dekat, lengket kayak perangko, maka akan mengalami kesulitan kalau dipisahkan. Pemisahan akan menimbulkan rasa kehilangan satu sama lain. Kedekatan relasi itu sudah seperti menyatunya jiwa yang sehati, sepikir, dan sekehendak.

Pengalaman Paulus bersama jemaat di Efesus bisa menjadi contoh yang baik. Mereka memiliki kedekatan yang sangat lengket dengan Paulus. Ketika berpisah dengan Paulus, para penatua di Efesus saling mencucurkan air mata. Mereka benar-benar sedih karena harus berpisah di tengah kedekatan relasi mereka itu. Lukas mencatat, “Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal” (Kisah Para Rasul 20:37,38).

Kedekatan itu membangun relasi saling percaya. Apa yang diajarkan Paulus benar-benar diterima oleh segenap Jemaat di Efesus. Namun, bagaimana bila lengket kayak perangko itu dikaitkan dengan efektivitas pelayanan? Ternyata kedekatan relasi dengan orang lain bisa “tidak sehat”. Kedekatan itu ternyata memberikan dampak yang sangat negatif, yakni jika kedekatan itu mengakibatkan “ketergantungan” yang tidak sehat! Karena ketergantungan yang tidak sehat itu dapat mematikan daya kreativitas, kemampuan diri, bahkan hilangnya rasa percaya diri. Ketika ketergantungan itu menciptakan idola, maka ketergantungan itu sudah tidak sehat lagi, relasi kedekatan sudah tidak benar. Sebagai contoh, ada orang yang berkata, “Aku kalau tidak didoakan oleh Pak pendeta itu tidak mantap!” “Yang betul-betul mantap dan manjur adalah doa dari pak pendeta itu.” Jelas sikap seperti ini sudah tidak benar, bukan? Padahal siapa pun yang percaya kepada Tuhan Yesus diberikan kuasa untuk menang atas segala pencobaan. Bahkan kalau ada kuasa Iblis yang mengganggunya, maka ia juga diberi kuasa untuk mengusir setan! Paulus tidak pernah menciptakan relasi yang menjadikan dirinya idola jemaat. Kedekatan relasi Paulus dengan jemaat di Efesus adalah untuk saling membangun, bertumbuh semakin dewasa dalam mengenal Kristus. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku mempunyai relasi yang dekat dengan siapa pun, kedekatan relasi yang bisa membuatku saling belajar untuk saling percaya, terbuka, membangun, menguatkan, menolong, dan mengasihi. Kedekatan yang semakin membawa pada sikap saling belajar untuk menjadi dewasa dalam pengenalan akan Kristus.
  2. Tuhan, jadikanlah segenap jemaat memiliki relasi yang dekat. Biarlah kelompok-kelompok persekutuan menjadi saling membangun dalam Kristus sehingga gereja dapat bertumbuh dengan sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *