Renungan Berjalan bersama Tuhan

Lidah Orang Bijak

Lidah Orang Bijak

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.” (Amsal 15:2)

Ada lagu yang mengatakan, “Memang lidah tak bertulang ….” yang ingin mengungkapkan bahwa lidah itu fleksibel untuk bergerak ke mana saja, ke atas, ke bawah, samping kanan dan kiri, berputar, dan sebagainya. Lidah memang diatur Tuhan, dan ditempatkan sebagai alat berbicara. Bayangkan kalau lidah itu bertulang, pasti kita tidak bisa berbicara dengan leluasa. Amsal mengingatkan, lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan. Yakobus juga membahas secara khusus tentang fungsi lidah. Yakobus menengarai bahwa lidah, walaupun bagian anggota tubuh yang paling kecil, tetapi bisa mempunyai dampak yang sangat serius dalam kehidupan manusia. Lidah diumpamakan seperti api yang sangat kecil, tetapi bisa membakar hutan yang sangat luas. Walaupun sebagai anggota tubuh yang kecil, tetapi lidah dapat menimbulkan konflik yang sangat besar. Oleh karena itu fungsi lidah, di satu pihak dapat memuji Allah, di pihak lain dapat mengutuk sesama; pada bagian lain bisa memuji Tuhan, tetapi di sisi lain mengutuki orang.

Sebenarnya lidah adalah alat yang Tuhan ciptakan untuk berbicara, dan alat itu selalu netral, tidak bisa disalahkan atau dibenarkan. Kalau bisa diumpamakan, seperti sebuah mobil. Mobil dapat pergi ke mana saja, baik ke tempat yang benar, maupun ke tempat mesum. Apakah mobil itu bisa disalahkan? Tentu tidak, bukan? Yang salah bukan mobilnya, tetapi orang yang menjalankan mobil itu. Demikian juga dengan lidah. Ia dapat mengatakan apa saja, tetapi sebenarnya lidah tidak dapat disalahkan. Bukan lidahnya yang salah, tetapi diri orang itu yang salah atau benar. Maka menurut Amsal, ada orang bijak dan juga orang bebal. Masing-masing orang akan mengeluarkan kata-kata yang sangat berbeda, sekalipun semuanya memakai lidah. Orang yang berhikmat akan mengeluarkan kata-kata yang berpengetahuan, yaitu kata-kata yang mengandung kebenaran, yang menguatkan, memberikan semangat baru, dan sebagainya. Sebaliknya, orang yang bebal akan mengatakan hal-hal yang merusak relasi, menyakitkan, bahkan terbiasa dengan kata-kata kotor, yang diungkapkan tanpa melihat apakah menyakitkan hati atau tidak.

Menurut Amsal, lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan. Apa yang dimaksud dengan pengetahuan, tidak lain adalah pengetahuan tentang hikmat itu sendiri. Pengetahuan tentang kebenaran hidup yang seharusnya ada di dalam diri orang-orang percaya. Bagaimana hidup kita bisa benar kalau tidak ada orang yang mengajarkan kebenaran? Kebenaran itu terus dinyatakan Allah kepada kita, dan kita mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan kebenaran itu. Maka kebenaran itu terus diajarkan, firman Tuhan terus dinyatakan. Hanya orang yang menggunakan lidahnya dengan bijak, maka kebenaran itu keluar dari lidahnya.

Sebaliknya, bibir orang bebal mengeluarkan kebodohan. Amsal terus terang menyatakan bahwa orang bebal tidak pernah menghasilkan hal-hal yang baik. Kehidupan orang bebal selalu memberikan dampak yang merusak. Amsal menyebutkan sebagai kebodohan. Apa yang dilakukan orang bodoh? Paling tidak ia tidak pernah memikirkan masa depannya dengan baik. Apakah nanti selamat atau tidak selamat, itu bukan menjadi bahan pemikiran orang bodoh. Apakah hidupku sekarang menjadi batu sandungan bagi orang lain, merugikan orang lain, menyakitkan sesama, dan sebagainya, sama sekali tidak ada dalam pertimbangannya. Dapat dikatakan ia tidak tahu hidup itu untuk apa dan mau ke mana. Maka orang bodoh yang tidak tahu hikmat berjalan menuju kebinasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *