Renungan Berjalan bersama Tuhan

Lidah Orang Bijak

Lidah Orang Bijak

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan” (Amsal 12:18).

Masih ingatkah kita dengan simbol dari jari-jari kita atau bahasa tubuh, misalnya mata, mulut, dan telinga kita? Ibu jari yang kita kenal dengan jempol memberikan arti baik, setuju, bagus, oke. Jari telunjuk berfungsi untuk memberikan perintah, menunjuk orang, memaki orang, memberikan pengajaran atau penegasan. Jari tengah sebagai sombol kesombongan atau tinggi hati. Jari manis tanda kasih sayang dan tempat cincin pernikahan, pengikat kasih seumur hidup. Jari kelingking, adalah jari paling kecil yang merupakan simbol jari yang menghadap Tuhan. Ketika tangan berdoa, ia sendiri yang ada di depan. Selain itu, ia juga sebagai pengikat perjanjian yang tidak boleh diingkari—pinky swear.

Wajah kita juga bisa memberikan tanda-tanda kontak dengan orang lain. Jika mata seseorang melotot, pasti orang itu sedang naik darah, marah besar. Jika matanya berkedip-kedip, itu tanda tertarik, main mata, atau menggoda, mau mengatakan aku suka kamu. Kalau daun telinga digoyang-goyangkan, itu memberi isyarat mengajak bergurau. Kalau mulut memberikan tanda meringis, itu menunjukkan sinisme, menghina, atau merendahkan. Dengan simbol-simbol ini, setiap jari atau wajah kita mempunyai makna dan dampak yang sangat penting dalam menjalin relasi dengan sesama. Kalau setiap hari kita lebih suka memakai telunjuk untuk memaki-maki orang atau terus memberikan perintah dengan keras, pasti orang lain tidak akan senang, bukan? Atau bila kita lebih sering mengepalkan tangan kita kepada orang lain dengan mata melotot, mulut sinis, pasti hal ini akan memberikan dampak tidak baik, tidak enak, dan menimbulkan banyak konflik.

Amsal mengatakan, “Ada orang yang lancang mulutnya.” Ini dapat dilakukan dengan kata-kata yang pedas, menyakitkan, tidak pernah memberi pujian, atau selalu mencaci maki. Bisa juga tanpa kata, dengan bahasa simbolis, seperti mencibir atau sinis, yang dalam bahasa Jawa disebut mencap-mencep. Ketika melihat ini, orang bisa tersinggung karena merasa dihina atau direndahkan. Amsal menyebut hal ini seperti tikaman pedang. Kata-kata maupun isyarat tubuh dapat menghina dan merendahkan orang lain sehingga orang yang menerima pesan itu sakit hati. Seolah ada pedang yang menusuk hatinya dan membuat luka yang tidak mudah disembuhkan.

Berkebalikan dengan hal itu, lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. Lidah orang bijak menyampaikan kata-kata yang enak didengar, kebenaran, dorongan semangat, yang tidak merendahkan atau meremehkan, tetapi memberikan kekuatan, gairah, dan pengharapan besar untuk melangkah maju. Bukan itu saja, lidah orang bijak juga memberikan kesembuhan. Artinya, orang yang terluka, kecewa, sakit hati, marah, dendam, bahkan berniat membalas dengan kejahatan akan mendapatkan kesembuhan, pemulihan, sehingga akrab dan bersahabat kembali. Orang dapat dikenyangkan dengan kebaikan melalui perkataan kita. Kata-kata dapat memberikan keseimbangan, menetralkan kesalahan, dan meminta maaf atas kekeliruan, sehingga semua yang menyakitkan dapat dipulihkan. Melalui perkataan yang jujur, lidah orang bijak akan memulihkan semua kejahatan dan kesalahan yang dilakukan sehingga terjadi kesembuhan. Amin.

1 thought on “Lidah Orang Bijak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *