Renungan Berjalan bersama Tuhan

Lihatlah Semut Itu

Lihatlah Semut Itu

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6).

Cukup menarik karena Amsal mengambil contoh dari binatang semut. Mengapa semut? Dalam Wikipedia dijelaskan sebagai berikut, “Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama lebah dan tawon. Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka. Koloni semut kadang disebut superorganisme karena koloni-koloni mereka yang membentuk sebuah kesatuan. Semut telah menguasai hampir seluruh bagian tanah di Bumi.

” Wow, luar biasa semut itu. Semut … ya semut … ciptaan Tuhan yang luar biasa, yang menguasai hampir seluruh bagian tanah di bumi. Dengan kata lain, ke mana pun kita pergi di belahan bumi, di situ kita bisa bertemu dengan semut, atau seluruh orang di dunia ini tahu tentang semut. Sebagai makhluk yang cukup kecil, mereka mampu menguasai seluruh tanah bumi ini. Semut bekerja dengan sistematis serta mempunyai tatanan “masyarakat” yang rapi dan teratur. Mereka mempunyai daya tahan yang luar biasa untuk hidup dan bekerja. Semut tidak mengenal lelah dan rintangan. Entah panas-hujan, siang-malam, terang-gelap, mereka tetap saja bekerja untuk mencari makan. Yang lebih menarik, makanan yang dicari bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Kalau makanan yang didapat itu dimakan sendiri, pasti si semut cepat gemuk, tidak bisa berjalan, dan mati kekenyangan. Para semut bekerja keras mencari makan ternyata untuk membangun “kerajaannya”. Sudah ada tugas dan panggilan masing-masing. Maka, Wikipedia menjelaskan kerja semut dengan “superorganisme”, suatu kerja yang hidup, bukan mati.

Kerja seperti itulah yang diambil oleh Amsal untuk mengingatkan para pemalas, yang tidak mau bekerja dan tidak mempunyai semangat, yang kerjanya hanya tidur dan mengantuk. Amsal mengatakan, “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” (Amsal 6:10). Orang yang malas tanpa aktivitas sama sekali, tanpa ada yang dikerjakan, tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. Orang yang malas tidak memberikan dampak apa pun dalam hidupnya secara pribadi, terlebih untuk orang lain.

Amsal mengingatkan orang yang malas untuk mempelajari bagaimana semut bisa hidup dan berjuang untuk hidupnya. Perjuangan yang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi perjuangan untuk sesamanya. Perjuangan untuk masa depannya, kemakmuran bersama, keamanan bagi semuanya, dan yang memberikan damai sejahtera. Hidup semut itulah yang bisa dicontoh manusia pemalas. Pemulihan diri dimulai dari diri sendiri yang sadar untuk terus berkarya bagi Tuhan dan sesama. Dunia kerja harus dilakukan dengan tekun dan semangat bersama Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *