Renungan

Lupa Nama Diri

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.

(Amsal 11:2)

Suatu kali saya sedang antre untuk check in penerbangan ke Jakarta. Di tengah antrean yang panjang itu, tiba-tiba seorang pria maju ke depan, memotong antrean yang ada. Petugas memintanya untuk antre, tetapi pria itu malah berkata, “Anda tidak tahu siapa saya?” Petugas itu pun menggelengkan kepala. Tiba-tiba salah seorang yang berada di tengah antrean itu nyeletuk, “Kasihan ya Bapak, namanya sendiri saja lupa.” Meledaklah tawa di antrean itu.

“Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Amsal 11:2).

Amsal ini mengingatkan kita bahwa keangkuhan hanya akan menghasilkan cemooh orang lain. Tidak ada orang yang menyukai untuk melihat atau mendengarkan keangkuhan orang lain. Sebaliknya, Amsal ini juga menegaskan kepada kita bahwa kerendahan hati akan menuntun pada hikmat. Ini berarti jika kita bersikap rendah hati yang diwujudkan dalam kesediaan mendengar dan belajar dari orang lain, maka hikmat pun akan bertambah.

Dalam sehari ada 24 jam yang sama bagi semua orang. Yang berbeda hanyalah ada orang yang mengisinya dengan keangkuhan sehingga hanya mendapatkan cemooh orang lain, tetapi ada orang yang dengan kerendahan hatinya berhasil mengumpulkan banyak hikmat. Makin banyak hikmat seseorang, makin matang ia dalam menghadapi pergumulan kehidupan.

Keangkuhan membawa kehancuran, kerendahan hati membawa pujian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *