Renungan Berjalan bersama Tuhan

Maafkan Aku

Maafkan Aku

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran” (Amsal 19:11)

Apa hubungannya akal budi dan panjang sabar? Inilah nasihat Amsal yang menghubungkan relasi antara pikiran dan hati. Pikiran lebih banyak berbicara tentang masalah rasio, sesuatu yang masuk akal atau masuk nalar, sedangkan hati lebih banyak membahas masalah rasa atau emosi. Panjang sabar itu ada di dalam wilayah hati karena panjang sabar terkait dengan gejolak emosional. Ketika suasana hati terusik, entah karena salah paham, beda pendapat, diskusi yang memanas, atau hal lainnya, orang bisa memunculkan kata-kata yang menyakitkan hati. Atau pengalaman-pengalaman yang merugikan, diperlakukan tidak adil, dituduh, dan dicurigai juga bisa menimbulkan rasa sakit hati.

Pada umumnya, hati yang sudah terluka akan membuahkan pembalasan. Gejolak perasaan yang telah disakiti pasti selalu menuntut dendam, bahkan tidak akan puas sebelum pembalasan itu diwujudkan. Pada saat seseorang sakit hati, kemudian menyimpan dendam dan mau membalasnya, maka tindakan ingin membalas itu sudah bukan berada di wilayah hati lagi, melainkan wilayah pikiran. Dendam di hati dipindahkan ke pikiran dan nantinya pikiran yang bekerja untuk melakukan pembalasan. Strategi, cara, dan tindakan dipikirkan dengan masak dan kemudian dilanjutkan dalam tindakan pembalasan.

Bagaimana kalau pengalaman itu terjadi dalam hidup anak-anak Tuhan? Amsal mengatakan supaya anak Tuhan menjalani hidup ini dengan “panjang sabar”. Bagaimana bisa panjang sabar? Dengan “akal budi”. Hanya dengan akal budi, seseorang bisa tenang menghadapi semua gejolak emosinya. Akal budi itu masuk ke dalam wilayah rasio atau pikiran. Ketika pikiran berjalan, maka yang terjadi adalah analisa, pemecahan masalah, mempertimbangkan untung rugi dalam relasi dengan Allah dan sesama, menggumulkan dampak yang positif atau negatif bagi anak-anak Tuhan. Itu semua berada di dalam wilayah akal budi. Jika terjadi hal-hal yang mengusik perasaan, maka persoalan itu perlu diselesaikan terlebih dahulu dengan akal budi. Hal itu akan memampukan seseorang untuk bersikap panjang sabar. Kesempatan untuk merenungkan dan memikirkan masalah yang sedang dihadapi akan memberikan waktu tenang, dan di sinilah sikap panjang sabar akan muncul.

Dampak dari panjang sabar adalah mampu memberikan maaf kepada orang-orang yang telah menyakiti. Hasil dari perenungan akal budi sangat luar biasa, bukan dendam atau pembalasan, melainkan kasih yang mengampuni. Dalam terjemahan lain dikatakan, “Orang bijaksana dapat menahan kemarahannya. Ia terpuji karena tidak menghiraukan kesalahan orang terhadapnya.” Orang yang menggunakan akal budi adalah orang yang bijaksana. Ia dipuji atau dihargai karena memberikan belas kasihan dan pengampunan. Dalam berkumpul dengan orang banyak, kita pasti akan menjumpai gesekan-gesekan perasaan. Namun, orang yang berakal budi tetap mempunyai relasi yang baik dengan sesama, penuh kasih, dan pengampunan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *