Renungan Berjalan bersama Tuhan

Mahkota Duri

Mahkota Duri

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 27:27-31

Mahkota sudah tak asing lagi bagi kita karena benda itu merupakan ”hiasan kepala” atau tanda penghargaan yang diberikan kepada seseorang yang telah mencapai prestasi tertentu. Mahkota merupakan tanda kemuliaan. Tidak sembarang orang dapat memakainya karena untuk itu ia harus melalui proses yang panjang, baik dalam bidang pendidikan, kemampuan bersosialisasi, ilmu pengetahuan, atau wawasan yang luas. Saringan-saringan ketat harus dilaluinya dengan penuh persaingan, tentunya persaingan sehat, untuk mencapai satu tujuan yang mulia, yaitu meraih mahkota tersebut. Bentuk mahkota bisa bermacam-macam, dan tidak jarang dihiasi dengan emas atau batu permata. Seseorang akan merasa sangat bangga bila mahkota itu dikenakan di atas kepalanya.

Bagaimana jika mahkota itu bukan bertatahkan emas, berlian, atau batu permata lainnya, melainkan terbuat dari duri-duri yang tajam? Siapa yang mau memakainya? Pasti tidak ada!  Namun, sejarah mencatat bahwa Tuhan Yesus telah mengenakan mahkota duri. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus melalui proses panjang sampai pada masa kesengsaraan-Nya. Dia harus lahir lebih dulu ke dalam dunia ini dan hidup di tengah manusia berdosa yang tidak mengenal kebenaran dan kasih. Seluruh hidup dan pelayanan-Nya ditolak dan tidak dihargai orang. Dia mengalami penderitaan fisik: disesah, dipukuli, diludahi, dan harus memikul kayu salib. Dan sebelum disalibkan, Dia harus mengenakan mahkota duri. Matius mencatat, “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: ‘Salam, hai Raja orang Yahudi!’” (Matius 27:29).

 

Sekarang, apa perbedaan antara orang yang menerima mahkota karena penghargaan prestasi dan orang yang menerima mahkota duri? Jelas sangat berbeda. Mahkota penghargaan diberikan dengan sambutan meriah. Ada tepuk tangan sukacita dan air mata keharuan karena telah menang. Mahkota itu dikenakan di kepala dengan rasa nyaman, di tempat yang full AC dan dekorasi yang semarak. Mahkota penghargaan sangat dirindukan orang dan semua peserta yang terlibat dalam kompetensi pun saling berebut untuk mendapatkannya. Lain halnya dengan mahkota duri! Di sepanjang sejarah, mahkota duri hanya dikenakan kepada satu orang, yakni Tuhan Yesus. Mahkota itu bukan dibuat dengan lingkaran yang halus di sisi dalamnya dan duri-duri runcing di luarnya, melainkan berupa anyaman duri. Jadi ketika dikenakan kepada Yesus, langsung duri-duri itu menancap di kepala-Nya sehingga darah mengalir dan membasahi wajah-Nya. Di sana tidak ada tepuk tangan, tetapi caci maki dan olok-olokan; tidak ada dekorasi yang semarak, tetapi ribuan orang yang berdiri menyaksikan dalam suasana tegang dan menakutkan, sambil berteriak-teriak histeris mengejek-Nya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *