Khotbah Perjanjian Baru

Makna Kebangkitan Tubuh Jasmani

Makna Kebangkitan Tubuh Jasmani

1 Korintus 15:12‑19

Oleh: Jenny Wongka †

Kepada jemaat di Korintus, Paulus mengingatkan kembali inti dari pemberitaannya. Di dalam ayat 1‑11, tampak bahwa orang‑orang Kristen di Korintus telah percaya akan kematian dan kebangkitan Kristus. Penegasan relita kebangkitan itu didasarkan pada dua argumen yang terdapat dalam pasal 15. Oleh karena Yesus telah dibang­kitkan, maka kebangkitan dari kematian adalah hal yang tidak mustahil lagi bagi manusia. Maksudnya, oleh karena kebangkitan Yesus, maka manusia pun kelak akan bangkit dari kuburnya. Karena jika tidak demikian, maka kebangkitan Yesus menjadi sia-sia. Dua kebangkitan ini berkaitan erat satu dengan yang lain. Bahkan, apabila tidak ada kebangkitan, maka pemberitaan Injil tidak lagi memiliki makna dan tidak berguna.

Sungguh disayangkan, sejumlah orang percaya menerima menerima  beberapa bagian dari kebenaran Allah tetapi tidak menerima bagian yang lain dari kebenaran itu. Hal itu tampak jelas dari kemunculan berbagai masalah yang dipengaruhi oleh filsafat pagan (pemberhalaan). Pemikiran filsafat dan spiritualisme pada masa Paulus, sama seperti yang kita miliki dewasa ini, memiliki banyak gagasan dan konsep yang keliru tentang hal‑hal yang bakal terjadi setelah kematian.

 

Sejumlah agama mengajarkan bahwa jiwa tidak akan pernah mati. Pada saat kita mati secara jasmani, maka jiwa dan roh kita beristirahat. Para penganut materialisme percaya akan kepunahan total, pembinasaan seu­tuhnya. Tidak ada bagian tubuh manusia yang dapat bertahan sete­lah kematian. Kematian adalah titik akhir dari kehidupan. Sejumlah agama mengajarkan reinkarnasi, di mana jiwa atau roh dapat mengulangi hidup dari satu bentuk ke bentuk yang lain, bahkan dari manusia menjadi binatang atau tanaman atau sebaliknya. Yang lain percaya bahwa baik secara utuh maupun sebagian, roh akan kembali kepada sumber­nya, yakni ke dalam eksistensi atau kehendak ilahi. Kepercayaan itu direfleksikan di dalam sebuah pernyataan dari filsuf kontem­porer Leslie Weatherhead, “Apakah akan jadi masalah besar apabila saya lenyap seperti setitik air di tengah lautan, jika suatu ketika saya menjadi ombak yang kemudian menghantam bibir pantai dengan tenang?”

 

Dari semua pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa keinsanan dan kepri­badian manusia akan lenyap begitu saja setelah ia mati. Jadi jika ada sesuatu yang terus hidup tanpa mengalami kematian, pasti itu bukanlah manusia, dan juga bukan suatu bentuk kesatuan individu yang hidup dengan normal.

 

Prinsip dasar dari filsafat Yunani kuno adalah dual­isme, sebuah konsep yang umumnya dihubungkan dengan seorang filsuf ternama, Plato. Dualisme menandaskan bahwa segala sesuatu yang bernuansa spiritual (rohani) pada hakikatnya adalah baik dan segala sesuatu yang bersifat fisikal (jasmani) adalah jahat. Bagi siapa saja yang menganut pandangan ini, maka ide tentang kebangkitan tubuh dinilai repug­nant (menjijikkan). Menurut mereka, alasan utama manusia melangkah pada kehidupan setelah kematian tak lain karena mereka ingin melarikan diri dari segala hal yang bersifat jasmani. Mereka berpikir bahwa tubuh itu bagaikan sebuah kubur, atau perangkap, yang membelenggu roh manusia selama hidup di dunia ini. Bagi orang‑orang Yunani, tubuh mereka akan berakhir dan mereka tidak mau membawanya serta pada kehidupan selanjutnya. Mereka percaya akan immortalitas (kekekalan) roh dan dengan tegas menentang ide kebangkitan tubuh. Paulus mengalami pertentangan itu dalam pelayanan penginjilannya di Areopagus. Ketika para ahli filsafat di Atena mendengar pengajarannya mengenai kebangkitan orang mati, beberapa dari mereka mencemooh dan berkata, “lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal ini” (Kisah Para Rasul 17:32). Seneca memiliki pandangan dualisme yang khas, “Tatkala hari itu tiba, ketika akan terjadi pembauran ilahi dan manusiawi, maka aku akan meninggalkan tubuhku ini, dan akan kembali menjadi allah.” Beragamnya ajaran serta filsafat mengenai kebangkitan membuat orang-orang Yahudi yang juga menjadi jemaat di Korintus mempertanyakan kebenaran dari pengajaran Paulus mengenai kebangkitan. Kendatipun fakta­nya pengajaran tentang kebangkitan telah diberikan sejak zaman Perjan­jian Lama, namun sejumlah orang Yahudi, seperti para Saduki, tidak percaya akan kebangkitan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *