Renungan Berjalan bersama Tuhan

Malam Natal

Malam Natal

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Kejadian 3:15; Markus 10:45

Apakah Natal itu? Saya percaya semua orang bisa menjawab. Natal adalah hari kelahiran Tuhan Yesus. Kalau hanya seperti ini maka jawaban tersebut bisa dijawab oleh semua orang, tidak usah orang Kristen. Mereka yang belum mengenal Tuhan juga akan menjawab bahwa hari Natal adalah hari kelahiran Tuhan Yesus. Jika demikian, seharusnya ada jawaban yang lebih mendalam. Natal ternyata bukan hanya kelahiran Tuhan Yesus ke dunia ini. Persoalannya adalah untuk apa Tuhan Yesus lahir ke dunia ini? Dia lahir tidak sama seperti kita, bukan? Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menjanjikan anugerah keselamatan bagi manusia.

Tuhan Allah berkata, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15). Perempuan itu akan melahirkan seorang Anak laki-laki, Dialah yang akan menjadi Mesias, Sang Juru Selamat manusia. Dia datang dengan visi dan misi yang jelas, yakni menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Tuhan Yesus berkata, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45). Jadi, jelas bahwa kelahiran Tuhan Yesus tidak terlepas dari penebusan manusia yang berdosa. Karena tanpa penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus, manusia tidak mungkin bisa diselamatkan. Manusia sudah jatuh ke dalam dosa, tidak dapat menyelamatkan dirinya dengan cara apa pun selain anugerah Allah melalui Tuhan Yesus yang menebus manusia. Tak seorang pun dapat membereskan dosanya di hadapan Allah. Semua manusia berdosa menuju kepada maut karena upah dosa ialah maut. Manusia juga tidak bisa mengatakan bahwa melalui perbuatan baiknya ia akan diselamatkan oleh Allah.

Calvin mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sudah berada dalam dosa karena dirinya sudah berdosa. Jadi, tidak mungkin manusia bisa melakukan hal-hal yang tidak berdosa. Penebusan itu melalui Dia yang menyerahkan nyawa-Nya dengan mati di atas kayu salib. Dengan demikian, jelaslah bahwa Natal tidak bisa terlepas dari kayu salib.

Kalau Natal tidak bisa dilepaskan dari kayu salib, sekarang yang menjadi pergumulan kita bersama adalah bagaimana kita merayakan Natal? Sukacita seperti apa dan bagaimana yang kita miliki dalam menyambut Natal? Perayaan apa yang bisa kita adakan untuk memperingati Natal? Jelas bukan dengan hura-hura sekuler, bukan dalam perayaan yang melupakan Bayi Natal yang naik ke atas kayu salib! Sukacita yang kita miliki adalah sukacita sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan dari kebinasaan hidup kita. Dan, sukacita itulah yang seharusnya kita bagikan kepada dunia ini. Sukacita yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan itu yang kita demonstrasikan kepada dunia sehingga mereka yang belum mengenal anugerah keselamatan itu bisa melihat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *