Renungan Berjalan bersama Tuhan

Masa Depan yang Indah

Masa Depan yang Indah

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Korintus 13:1-13

Jika ditanya kapan masa-masa terindah yang Anda alami dalam hidup ini? Sebagian besar mahasiswa pasti akan menjawab: Masa SMA. Mengapa demikian? Menurut mereka, ketika masih di Sekolah Dasar, mereka  sangat takut kepada guru, apalagi kalau gurunya galak. Setelah naik ke jenjang SMP, mereka mulai sedikit berani kepada guru. Mereka mulai membentuk geng dan bersaing antarkelompok, baik secara positif maupun negatif. Mereka mulai nakal. Hal itu terbawa sampai ke SMA. Di bangku SMA, mereka berani terhadap guru  (dalam arti “nakal”). Namun, setelah kuliah, keakraban dengan guru pun hilang. Pada masa itu, dosen tak lagi memperhatikan para mahasiswa. Apakah mereka mau belajar atau tidak, itu urusan pribadi mereka karena mereka dianggap sudah dewasa. Yang penting, pada waktu ujian, mereka dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik.

Bagaimana jika pertanyaan itu ditanyakan kepada kita yang sudah berkeluarga? Secara umum kita akan menjawab bahwa masa-masa yang terindah adalah masa berpacaran. Mengapa? Karena pada masa itu masing-masing ingin menyenangkan pasangannya. Penampilan, sikap, cara memandang, percakapan, dan sebagainya diatur sedemikian rupa agar tetap menarik dan menyenangkan. Kesalahan-kesalahan mudah dimaafkan dan cepat dilupakan. Semua masalah juga mudah diselesaikan dengan pengorbanan, baik waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya, meskipun disadari bahwa semuanya itu mungkin hanya “sandiwara”. Mengapa demikian? Karena kita belum memasuki kehidupan riil dalam keluarga. Kita belum mengalami beban pekerjaan, kebutuhan keluarga, karier, perkembangan anak, dan sebagainya.

 

Bagaimana dengan orang yang sudah berkeluarga? Apakah masa itu tetap indah? Ataukah penuh pergumulan, bahkan konflik sepanjang hidup? Kalau masa pacaran dinilai sebagai masa yang paling indah, apakah masa itu tetap dipertahankan ketika sudah berkeluarga? Masihkah relasi suami istri bisa bertahan sama seperti relasi pada waktu berpacaran? Masihkah cara-cara menyelesaikan masalah dan pergumulan hidup yang dilakukan sama seperti pada waktu masih berpacaran? Masih samakah pandangan, sikap, tutur kata, dan tatapan mata kita selembut seperti ketika masih berpacaran, sekalipun raut wajah semakin tua? Dapat dipastikan jawabannya, “Tidak sama!” Oh, kalau begitu berarti ada perubahan …

 

Ya … perubahan bisa ke arah baik atau buruk. Jika buruk, keluarga akan semakin berantakan. Jika baik, keluarga akan semakin bertumbuh dewasa. Suami istri bertambah bijaksana dalam menyelesaikan masalah, bahkan lebih saling memahami dan menerima dengan sabar ketimbang pada waktu masih berpacaran. Wah, kalau begini tentu sangat baik. Keluarga berada dalam keadaan damai sejahtera.

 

Sekali lagi, sebagian besar orang menjawab, “Tidak sama!” jika dibandingkan semasa berpacaran dulu. Dulu begitu mesra, sekarang sangat kasar. Dulu begitu pengertian dan sabar, sekarang begitu tidak peduli dan galak! Jika hal itu terjadi, kembalilah melihat ke belakang, melihat ke masa pacaran yang begitu indah. Masa itu jangan dilupakan! Kasih yang sesungguhnya tidak pernah berkesudahan. Paulus berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13). Biarlah kasih itu tetap mewarnai seluruh perjalanan hidup kita, dari masa kanak-kanak sampai lanjut usia. Amin.

1 thought on “Masa Depan yang Indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *