Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Perjanjian Lama, Renungan Berjalan bersama Tuhan

Melayani sebagai Pelayan

Oleh: Maria Natalia

Kejadian 18:1-8; Lukas 17:7-10

Pendahuluan

Bapak Mahfud, seorang petugas pembantu lalu lintas (Supeltas). Putarkan videonya. Lihatlah aksi Bapak Mahfud, yang dianggapnya sebagai sebuah pengabdian. Tidak seberapa hasil uang yang bisa ia dapatkan. Sebelum dapat seragamà bisa dapat Rp. 50ribu sehari, tetapi setelah pakai seragam, pendapatannya tidak sampai melebihi Rp. 10ribu sehari, karena orang banyak mengira ia digaji oleh pemerintah. SS, tetapi senyum di wajahnya tidak pernah pudar. Sukacitanya ia tularkan melalui pelayanannya bagi masyarakat.

Bila orang yang belum percaya pada Tuhan Yesus bisa menunjukkan pelayanan sedemikian rupa, bagaimana dengan anak-anak Tuhan dalam melayani Dia? Adakah semangat dan sukacita yang sama yang ditunjukkan saat melayani sebagai pelayan? Setidaknya inilah yang juga dinyatakan oleh Abraham, seorang yang dikenal sebagai bapa orang beriman.

Isi

Abraham Melayani sebagai Pelayan

SS, siang itu di tengah panas terik, Abraham sedang duduk diam di pintu kemahnya di dekat pohon di Mamre. Siang hari yang pas untuk seorang berusia 99 tahun beristirahat dengan enak dan nyaman. Namun siang itu menjadi siang yang begitu sibuk dan heboh bagi engkong ini. Saat ia melihat tiga orang datang, ia segera menyambut mereka. Dalam terjemahan bahasa Indonesia tidak jelas apakah mereka laki-laki atau perempuan, tetapi terjemahan bahasa Inggris menolong kita untuk tahu bahwa mereka adalah tiga orang laki-laki, “Three men standing nearby.” Engkong yang belum memiliki cucu ini menyongsong mereka dan sujud sampai ke tanah. Kata “Sujud” yang dipakai di sini biasa dipakai ketika seseorang menyembah Allah. Tidak dijelaskan, apakah Abraham tahu bahwa itu adalah Allah yang datang kepadanya, namun apa yang Abraham lakukan menunjukkan rasa hormatnya kepada mereka. Kepada salah seorang dari mereka, ia memohon agar mau menumpang di kemahnya. Ia memohon dengan sangat, agar mereka mau mampir ke kemahnya, karena kalau mereka berkenan mampir, ia merasa dikasihi dan terhormat. Sangat berbeda dengan budaya di masa sekarang, yang sepertinya sudah jarang orang saling bertamu karena berbagai macam kesibukan. Kalaupun masih ada budaya ini, jangan sampai deh kebagian jadi tuan rumah, repot. Abraham menunjukkan keramahan yang luar biasa. Permohonannya: “Bila Engkau tinggal, ini demi keuntungan hambamu.” Hal ini menekankan kegembiraan, kepuasan Abraham bila ia dapat melayani mereka. “Ini menjadi sukacitaku engkau datang, engkau membuat hariku menjadi menyenangkan.”

SS, ia memang hanya menawari mereka “Sepotong roti” untuk dihidangkan, namun lebih dari itu, ia menawarkan perlindungan, keteduhan, serta kemudahan untuk mereka sebelum melanjutkan perjalanannya. Seorang penafsir bahkan mengatakan siang itu menjadi “Tornado of activity” aktivitas yang seperti badai sibuknya. Dari ayat 6-7 kita mendapati perkataan: “Abraham segera pergi ke kemah. . .” Lalu ia berkata pada Sara: “Segeralah!” Dicatat pula: “Berlarilah Abraham. . .” Bayangkan engkong 99 tahun melakukan semua pekerjaan itu. Sepotong roti yang ditawarkan ternyata berwujud hidangan mewah untuk para tamunya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *