Renungan Berjalan bersama Tuhan

Melepas Lelah

Melepas Lelah

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Matius 11:25-30

Siapa sih yang tidak ingin melepas lelah? Kalau tubuh sudah letih lesu karena menanggung beban berat yang dipikul selama bertahun-tahun, maka orang itu tanpa perlu ditanya pasti ingin melepaskan kelelahan hidupnya itu. Beberapa kali saya mendampingi orang yang terserang penyakit kanker. Awalnya tubuhnya segar bugar. Kemudian, dalam waktu singkat ia berubah total menjadi orang yang lemah, berwajah suram, berpandangan mata kosong, berat badan menurun drastis, rambut mulai rontok sampai akhirnya gundul, mata cekung. Bukan itu saja, napasnya juga semakin berat dan terus terungkap kata-kata seperti “Sudah lelah”, “sangat lelah”, “sudah tak kuat lagi”, “sampai kapan harus begini?”, “kapan Tuhan memanggil?”, “mengapa Tuhan tidak segera memanggilku?”, “apa kehendak Tuhan?”, “apa rencana Tuhan dalam hidup seperti ini?”, “mengapa mengalami ini?”.

Itulah kelelahan hidup karena penyakit. Ada kelelahan hidup yang disebabkan oleh usia yang sudah sangat lanjut, mata sudah tidak bisa melihat lagi, telinga sudah tidak mendengar, dan pikiran sudah pikun! Kelelahan lain juga terjadi dalam dunia usaha ketika pekerjaan yang dilakukan tidak pernah berhasil. Bertahun-tahun bekerja di tengah kesulitan. Segala usaha sudah diupayakan tetapi selalu mengalami kegagalan. Sudah bersikap jujur, tidak berani berbohong, tetapi malah ditipu orang habis-habisan. Belum lagi konflik dalam keluarga, suami istri terus bertengkar dan anak-anak yang menjadi korban. Kekerasan dalam rumah tangga setiap hari dialami, rumah tangga terasa seperti neraka di dunia. Hidup ini benar-benar melelahkan!

 

Ketika keadaan seperti itu dialami, ke mana kita harus mengadu? Langkah apa yang harus ditempuh? Suatu kali Tuhan Yesus menyapa dan berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). “Marilah” adalah kata ajakan, undangan untuk datang kepada-Nya sekarang juga. Siapa yang diundang oleh Tuhan? Mereka yang menjalani hidupnya dengan letih lesu dan berbeban berat. Yang sudah letih, lelah, dan tidak kuat lagi, merekalah yang diundang oleh Tuhan Yesus. Marilah kita belajar untuk menyerahkan segala beban berat itu kepada Tuhan. Menyerahkan mempunyai makna “meninggalkan, membuang, memberikan, tidak mau direpotkan lagi dengan kegagalan dan keletihan hidup di masa lalu atau yang sedang dijalani”. Kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan Yesus, yang telah membuka tangan-Nya lebar-lebar agar kita datang kepada-Nya. Bagaimana mungkin kita bisa berserah kalau beban itu tetap ada, sakit itu tetap melekat di tubuh, perubahan tidak pernah terjadi, kekerasan terus terjadi setiap hari, malah bertambah parah? Mungkin semua kesulitan itu tetap ada. Penyerahan diri bukan berarti saat itu juga penyakit hilang, beban berat terangkat dan menjadi ringan. Bukan itu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *