Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Pra Paska & Paska

Memandang Salib Rajaku

Memandang Salib Rajaku

Yohanes 19:16-24

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Dalam hari-hari menjelang perayaan sengsara dan kebangkitan Yesus pada tahun ini, ada begitu banyak tugas pelayanan yang harus saya kerjakan. Mulai dari menentukan tema untuk tiga acara “besar”: Malam Getsemani (Kamis), Jumat Agung, dan Minggu Paska sampai dengan membuat liturgi kebaktian untuk acara-acara tersebut. Saat harus memilih tema untuk Kebaktian Jumat Agung yang disertai dengan Perjamuan Kudus, pilihan saya jatuh pada tema “Memandang Salib Rajaku” yang juga menjadi judul renungan ini. Tema tersebut saya angkat dari salah satu lagu yang terdapat di dalam Kidung Jemaat. Judul asli lagu yang terdapat di dalam Kidung Jemaat no 169 tersebut adalah “When I Survey the Wondrous Cross”, yang ditulis oleh Isaac Watts pada tahun 1707. Hampir 300 tahun lagu itu telah berkumandang dan akan terus menggetarkan hati banyak orang.

Dalam versi terjemahan Kidung Jemaat, pada bait pertama tertulis:

Memandang salib Rajaku yang mati untuk dunia, 

‘Kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya

Bait pertama tersebut senantiasa mengingatkan saya bahwa manusia yang tergantung di kayu salib tersebut sebenarnya adalah raja dan junjungan saya. Menyaksikan seorang raja dalam kemulian dan kejayaan adalah hal yang biasa. Menyaksikan seorang raja dalam kehinaan dan kematian adalah sebuah peristiwa yang luar biasa. Apalagi itu adalah kematian di atas kayu salib yang begitu memilukan dan memalukan. Seorang raja yang mempunyai segala kuasa harus mati di atas kayu salib bersama-sama dengan dua penjahat kelas berat. Betapa tragisnya.

 

Tatkala Manusia Mempunyai Sedikit Kuasa

Dalam kehidupan sehari-hari kita telah menyaksikan betapa kekuasaan itu identik dengan kekuatan, penghargaan dan kekayaan. Siapa pun yang berkuasa akan dengan mudah mendapatkan akses yang terbuka lebar menuju ketiga hal tersebut. Tidak mengherankan apabila kekuasaan selalu diperebutkan, kalau perlu dengan mempertaruhkan nyawa orang lain atau bahkan nyawa diri sendiri. Ada godaan yang begitu besar bagi setiap penguasa untuk memanfaatkan kekuasaan bagi diri dan kelompoknya. Hal ini tepat seperti apa yang pernah dikatakan oleh Lord Acton, “Power tends to corrupts and absolute power corrupts absolutely (Kekuasaan cenderung disalahgunakan, dan kekuasaan yang mutlak pasti disalahgunakan)”. Selain haus akan kekuasaan, hampir semua orang juga memiliki kecenderungan untuk memamerkan kuasanya. Sebagai contoh sederhana adalah soal antrian mengambil atau menyetor uang di bank. Dalam suatu kesempatan di tengah antrian yang sangat panjang di sebuah bank, seseorang dengan pakaian dinas dari sebuah kantor pemerintah tiba-tiba berjalan maju dan melewati begitu saja antrian orang, lalu menaruh buku tabungannya di teller. Seorang satpam yang mencoba mengingatkannya hanya terseyum kecut tatkala orang yang bersangkutan dengan tenang berkata, “Ini urusan dinas, jangan ikut campur.” Entah benar atau tidak perkataannya itu, yang jelas orang tersebut berbicara demikian sambil sedikit membuka jaketnya untuk menunjukkan apa yang ada di balik jaket itu: sebuah senjata api.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *