Khotbah Perjanjian Lama

Memento Mori

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Mazmur 39:5-8

Shalom, Saudara-saudara… Pada kesempatan yang indah ini saya akan membawakan satu tema yang saya beri judul Memento MoriIngatlah Anda Akan Mati. Bisa jadi saat mendengar tema ini, Saudara berkomentar, “Wah, temanya kok ngerikok disuruh mengingat kematian!” Saudara… ya… bisa saja kita jadi ngeri dengan tema ini. Tetapi, itu juga tergantung dari cara pandang kita. Dengan cara pandang yang lain, bukannya ngeri kita bisa jadi malah bersyukur dengan tema ini.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan… mari bersama-sama kita belajar dari sebuah doa; doa yang dipanjatkan oleh Raja Daud yang terdapat dalam Mazmur 39:5-8:

Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti. Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap!

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Melalui ayat-ayat ini saya kembali diingatkan akan suatu perjalanan. Saya percaya semua kita pernah melakukan perjalanan jauh, apa pun alat transportasi yang kita gunakan. Pada saat saya mendapat undangan melayani di Malinau ini, Saudara… saya mulai buka google; Malinau itu di mana, perjalanan kira-kira akan ditempuh berapa jam, sampai di sana saya harus apa, dst… semua mulai saya pikirkan. Ketika dalam perjalanan… saya mulai dari Semarang, lalu transit di Balikpapan. Dari Balikpapan saya terbang lagi ke Tarakan. Di Tarakan saya harus menunggu cukup lama sebelum akhirnya terbang ke Malinau. Selama dalam perjalanan tersebut, dalam hati saya terdapat satu harapan, yaitu segera tiba di tempat dengan selamat. Kita yang sedang dalam perjalanan jauh selalu memiliki harapan itu, ya, Saudara? Saya percaya itu. Nah, ada yang aneh, Saudara… ketika saya sudah sampai di Tarakan, walaupun saya harus menunggu lama di sana, hati dan pikiran saya mengatakan, “Perjalanan sudah dekat! Sebentar lagi sampai!” Hati saya menjadi senang sekali. Ada sukacita karena segera sampai di tempat tujuan.

Nah, sekarang coba kita bawa pengalaman perjalanan itu ke dalam perjalanan hidup kita. Kalau di dalam perjalanan Semarang-Malinau tadi saya inginnya segera sampai di tujuan; saya percaya dalam perjalanan hidup ini tidak semua orang ingin cepat-cepat sampai ke tujuan. Benar, ya, Saudara? Coba jujur… Apakah Saudara ingin segera bertemu Tuhan? (jemaat: tidak). Atau, apakah Saudara akan merasa sangat senang ketika sebentar lagi dipanggil Tuhan? Bukan senang, kita pada umumnya malah takut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *