Khotbah Perjanjian Lama

Memento Mori

Saudara… barangkali orang dunia mengatakan, ketakutan seperti itu manusiawi. Adalah hal yang wajar manusia takut mati. Malam ini saya katakan, “Itu salah, Saudara! Kalau Saudara takut mati, itu berarti ada yang tidak beres dalam hidup Saudara!” Saya ulang, Saudara… kalau Saudara takut mati, berarti ada yang tidak benar dalam iman Saudara. Karena orang yang takut akan kematian masih diperhamba oleh Iblis (Nanti dirumah baca dan renungkan Ibrani 2:14-15 ya).

Nah, malam ini kita akan bersama-sama mendalami doa Daud. Apa maksud Daud dengan doa tersebut. Tapi sebelumnya, saya ingin mengajak Saudara masuk ke abad pertengahan untuk memahami doa Daud tersebut.

Ada seorang saleh namanya Thomas ä Kempis (1380-1471). Kempis mengatakan,

“Oh… alangkah bodoh dan kerasnya hati kita, yang hanya memikirkan keadaan sekarang dan tidak bersiap-siap menghadapi waktu yang akan datang. Berbahagialah orang yang selalu memikirkan tentang waktu kematiannya dan yang setiap hari menyiapkan diri untuk mati.”

Anak-anak Tuhan seharusnya seperti itu, Saudara. Kempis tidak mengatakan bahwa kematian adalah saat yang menakutkan. Sebaliknya, justru saat kita memikirkan kematian, itu adalah saat-saat yang sangat membahagiakan. Apakah Saudara sudah menyiapkan diri untuk mati?

Satu lagi, Saudara… seorang saleh yang bernama François Fenelon (1671-1715). Ia mengatakan begini,

“Kita sangat menyesalkan kebutaan orang-orang yang tidak mau memikirkan kematian dan yang memalingkan perhatian mereka dari suatu hal yang tidak terelakkan, yang sebetulnya dapat membahagiakan apabila sering dipikirkan, kematian hanya menggelisahkan orang-orang yang mementingkan hal-hal jasmani!”

Seperti halnya Kempis, Fenelon juga mengatakan bahwa memikirkan kematian adalah hal yang dapat membahagiakan. Apabila kita takut kematian, itu berarti kita masih terikat dengan hal-hal duniawi. Bagaimana dengan Saudara?

Malam ini saya ingin mengajak Saudara untuk ber-memento mori. Memento mori sebenarnya adalah disiplin rohani gereja masa lalu yang sayangnya hilang di gereja zaman sekarang. Lihatlah gambar ini (Andy Kirana menunjukkan gambar tengkorak di tengah, di samping kiri gambar jam pasir dan di sebelah kanannya gambar bunga dalam vas). Memento mori mengajar kita merefleksikan, merenungkan pertama, jam pasir. Jam pasir menyadarkan kita bahwa hidup kita di dunia ini sangatlah singkat dibandingkan dengan hidup kekal nanti. Kedua, bunga yang diletakkan di dalam vas bunga. Saudara… coba bayangkan Saudara merangkai bunga di dalam vas. Apa yang tampak? Indah, bukan? Bunga-bunga yang dirangkai di dalam vas akan tampak indah. Tetapi, berapa lama keindahan bunga itu akan bertahan? Pada akhirnya semua bunga itu akan layu dan rontok. Ini apa artinya, Saudara… Ini artinya bahwa semua yang ada di dunia ini… kekayaan, kekuasaan, kemegahan, kepopuleran, kegantengan, kemolekan… akan layu dan rontok. Semuanya akan berakhir, mati seperti gambaran tengkorak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *