Khotbah Perjanjian Lama

Memento Mori

Raja Daud lewat doanya di dalam Mazmur 39 mengajak kita untuk ber-memento mori. Dalam ayat 5 tadi Raja Daud meminta kepada Tuhan, “Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!” Terus terang, Saudara… sepanjang hidup saya, saya belum pernah berdoa seperti ini. Atau di antara Saudara ada yang pernah berdoa seperti ini? Tampaknya tidak ada. Sepanjang hidup saya, saya juga belum pernah mendengar doa seperti ini dipanjatkan orang Kristen kepada Tuhan.

Apakah itu berarti Daud memang ingin tahu kapan dia mati? Apakah Daud memang ingin tahu kapan batas umurnya? Tidak, Saudara… Daud bisa sebegitu terus-terang… blak-blakan kepada Tuhan karena dia sangat dekat dengan Tuhan. Sebagai orang Jawa, sejak kecil saya dinasihati oleh semua orang di sekitar saya untuk tidak berbicara tentang kematian. Istilahnya ngalup: mendahului kehendak Tuhan. Mereka khawatir, “Nanti jangan-jangan… jangan-jangan terjadi sesuatu!”. Firman Tuhan berbicara sebaliknya. Justru doa itu untuk mengingatkan kita akan betapa fananya hidup ini.

Nah, apa yang dikatakan Daud mengenai kehidupan ini?

Pertama, Daud mengatakan bahwa hidup manusia… hidup Saudara dan saya… hanya “beberapa telempap.”

Satu telempap itu maksudnya satu lebar telapak tangan. Kalau dikatakan hidup manusia hanya beberapa telempap berarti hidup manusia itu hanya beberapa lebar telapak tangan. Kalau perjalanan hidup manusia itu katakanlah tiga atau lima telempap; itu hanya sama dengan satu langkah. Satu langkah lalu berhenti. Itulah perjalanan hidup manusia di dunia di hadapan Tuhan. Ini berarti Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita di dunia ini teramat pendek dibanding dengan kehidupan kita di surga yang tidak ada batasnya. Betapa pendeknya hidup ini!

Kedua, Daud mengatakan… apa pun yang Saudara kerjakan, apa pun yang Saudara peroleh di dunia ini, itu hanya “bayangan yang berlalu.”

Kalau dikatakan semua itu hanya bayangan, berarti itu hal yang sesungguhnya atau bukan, Saudara? Bukan… karena hanya bayangan. Kalau Saudara saat ini punya harta, itu hanya bayangan… bukan hartamu yang sebenarnya karena hartamu yang sesungguhnya berada di surga. Di ayat tadi Daud mengatakan… kalau di dunia ini kita bekerja mati-matian mengumpulkan harta; setelah mati kita tidak tahu siapa yang akan meraup harta yang telah kita kumpulkan itu. Ayat ini mengingatkan saya pada tsunami yang menerjang Banten dan Lampung beberapa waktu lalu (Andy Kirana menunjukkan gambar rumah, mobil, dan alam yang rusak). Saya mendapat  pengajaran yang penting… betapa tidak berharganya harta benda yang kita kumpulkan di dunia ini. Ketika diterjang tsunami, semua harta itu menjadi sia-sia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *