Khotbah Perjanjian Lama

Memento Mori

Ketika merenung-renungkan ayat ini, Saudara… saya teringat perumpamaan Tuhan Yesus mengenai orang kaya yang bodoh (Lukas 12:16-20). Orang kaya ini menumpuk kekayaan. Lumbung-lumbungnya tidak muat lagi menampung kekayaannya. Dia membangun lagi lumbung-lumbung baru… tetapi penuh lagi. Dan ketika orang ini sedang beristirahat dan bersenang-senang menikmati kekayaannya, firman Tuhan kepadanya, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinnya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Saudara, Tuhan tidak antiorang kaya. Tuhan senang dengan harta kekayaan Saudara dan saya. Tuhan senang bila anak-anaknya kaya. Tetapi, Tuhan Yesus peringatkan… hati-hati bila engkau tidak kaya di dalam Tuhan. Saya yakin Tuhan Yesus pun memperingatkan kita untuk tidak bodoh. Demikian juga dengan doa Daud… Daud menginginkan supaya semua kekayaan atau kekuasaan yang ada dalam tangan kita tidak disia-siakan. Daud tidak ingin kita menjadi orang bodoh, tetapi menjadi orang yang berjalan dalam hikmat Tuhan.

Saya ingin memperkenalkan seorang tokoh, namanya C.S. Lewis. Dulunya dia seorang ateis. Pada akhirnya dia menerima Tuhan Yesus. Dia seorang ilmuwan yang banyak menulis buku. Barangkali anak-anak muda di sini tahu film Narnia. Tahu film Narnia? Itu adalah film yang didasarkan pada novel The Chronicles of Narnia yang ditulis oleh C.S. Lewis.  C.S. Lewis pernah mengatakan demikian,

“Jika Anda membaca sejarah, Anda akan mendapati bahwa orang-orang Kristen yang paling banyak berbuat untuk dunia saat ini adalah orang-orang Kristen yang sepenuhnya memikirkan kehidupan berikutnya.”

Justru mereka yang memikirkan kehidupan surgawi adalah mereka yang sangat produktif di dunia ini. Bukan malah bermalas-malasan! Kemudian C.S. Lewis mengatakan seperti ini… mari kita baca bersama… “bidiklah surga dan dunia akan menjadi milikmu. Bidiklah dunia dan Anda tidak akan mendapatkan keduanya.”

Apa yang diungkapkan lewat doanya, dengan jelas Daud juga membidik surga. Daud menyadari bahwa hidupnya tidak akan panjang, bahwa semua kekuasaan, kepopuleran, kemasyuran dan kekayaannya akan rontok. Tetapi, Daud kemudian mengatakan, “Kepada-Mulah aku berharap!” Daud membidik surga, bukan dunia. Inilah yang seharusnya juga menjadi bidikan Saudara dan saya.

Ketika bidikan kita sudah benar… ketika kita hanya berharap kepada Allah; kita tidak perlu lagi takut akan hari-hari yang kita lalui, termasuk mengenai kematian. Kita diciptakan bukan untuk menuju kematian. Oleh karena itu, kita juga tidak boleh berpandangan… biarkan saja hidup ini berjalan apa adanya, toh sebentar lagi saya akan mati. Tidak begitu! Sekali lagi, kita tidak diciptakan untuk menuju kematian, tetapi kepada kehidupan yang kekal. Oleh karena itu, hidup ini juga harus dinamis… ada kemajuan demi… ada pertumbuhan. Bagaimana ini terjadi, Saudara? Untuk menunjukkan hal ini saya minta seseorang untuk maju ke mimbar membantu saya mempraktikkan memento mori (seorang jemaat maju ke mimbar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *