Khotbah Perjanjian Lama, Khotbah Topikal

Memento Mori

Ajarlah kami menghitung hari-hari  kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. 

Mazmur 90:12

Oleh: Pdt. Em. Stefanus Semianta 

Apakah dalam hidup ini ada hal yang pasti? Ada! Tetapi hanya satu! Apa itu? Bahwa kita semua akan mati. Hanya itu yang pasti. Segala sesuatu yang lainnya serba belum pasti atau tidak pasti.

Memento Mori! Demikianlah sebuah pepatah/peribahasa latin. Artinya: Ingatlah Anda akan mati! Apa perlunya kita diingatkan bahwa kita akan meninggal dunia? Bukankah kita sudah tahu? Benar, kita sudah tahu. Tetapi dalam kenyataan, kita sering pura-pura tidak tahu. Atau lebih tepatnya tidak mau tahu. Buktinya kita tidak mau berpikir atau berbicara tentang kematian. Sengaja kita menghindar dari perenungan atau pembahasan tentang kematian. Kita tidak mau dekat-dekat dengan orang mati.

Siapa di antara kita yang merasa nyaman duduk berjam-jam lamanya di tengah kuburan? Apalagi kalau hari sudah gelap. Mana ada org yang sengaja pasang iklan, ”Dicari rumah yang terletak di sebelah atau di depan kuburan.” Perusahaan real estate atau housing developer menawarkan  perumahan dengan lokasi pemandangan menghadap ini dan itu dengan sebutan lake view, mountain view, ocean view, river view, dan yang lainnya. Tetapi mana mungkin ada perumahan yang menawarkan cemetery view (pemandangan kuburan).

Kita juga tidak suka berlama-lama di kamar jenazah. Kita merasa seram dan ngeri  berlama-lama memandangi wajah jenazah yang pucat dan kaku. Biasanya kita cepat-cepat berlalu.

Siapa pula yang merasa senang jika seandainya tetangga kita menitipkan peti jenazah, meski itu peti kosong dan masih baru? Kita membeli furniture ini itu untuk menjadi pajangan di rumah kita. Tetapi apakah kita meletakkan peti mati di ruang tamu kita, kamar makan atau kamar tidur kita? Tentu tidak!

Pokoknya kita mau menjauhkan diri sejauh mungkin dengan dan dari segala sesuatu yang menyangkut kematian. Kita tahu bahwa kita akan mati. Namun kita tidak mau tahu bahwa kita akan mati. Kita berlagak tidak tahu.

Namun dengan sikap seperti itu, pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu, sebenarnya kita membodohi diri sendiri. Dengan bersikap demikian, kematian bukan menjadi tidak ada, melainkan cuma disembunyikan untuk sementara waktu. Sebab kenyataan bukan untuk ditutupi, melainkan untuk dihadapi.

Oleh sebab itu, kita diingatkan akan memento mori. Ingat Anda akan mati. Apakah peringatan itu bermaksud untuk menakut-nakuti? Bukan! Apakah untuk mengancam atau mengintimidasi? Juga bukan!

Lihat bagaimana pemazmur mengemas atau merumuskan memento mori. Ia menulis, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian rupa, hingga kami beroleh hati yg bijaksana” (Mazmur 90:12). Memento mori dikemasnya sebagai sebuah permohonan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *