Renungan Berjalan bersama Tuhan

Memiutangi Tuhan

Memiutangi Tuhan

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu” (Amsal 19:17)

Kepada siapa seseorang mudah berbaik hati dan suka menolong? Yang pasti kepada orang yang lebih dari dirinya, entah yang lebih mampu, lebih kaya, lebih tinggi pangkatnya, memiliki jabatan dalam pemerintah, dan sebagainya. Begitu keluar dari mobil dan membawa koper, langsung ada orang yang berebut membawakan kopernya. Demikian juga dalam pertemuan-pertemuan orang besar yang tampak sangat meriah. Semua undangan merasa perlu untuk hadir walaupun hanya sebentar, sekadar untuk berjabat tangan. Kepada merekalah, banyak orang sering kali lebih memperhatikan dan berbaik hati. Tentunya ada hal-hal yang diharapkan di balik sikap itu, misalnya berharap bisa membina relasi yang baik dengan orang besar itu atau menjaga relasi yang selama ini sudah terjalin dengan baik, jangan sampai putus. Itu hal yang wajar dalam berelasi dengan masyarakat, apalagi kalau dikaitkan dengan bisnis.

Amsal mengungkapkan hal yang berbeda dengan masalah di atas. Banyak orang yang biasa memperhatikan mereka yang sudah mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu. Sebaliknya, Amsal mengatakan bahwa kita justru dipanggil untuk memperhatikan mereka yang lemah. Memang apa yang dikatakan Amsal bisa berkebalikan dengan apa yang sering dilakukan oleh orang-orang di dunia ini. Amsal sangat mengenal kehidupan sosial masyarakat yang seharusnya mempunyai kehidupan yang saling menolong, berbelaskasihan, dan membantu mereka yang lemah. Mengapa ini menjadi catatan bagi Amsal? Karena orang yang lemah selalu ditinggalkan oleh kelompok masyarakat yang merasa lebih kuat. Yang lemah dibiarkan bertumbuh sendiri dan benar-benar diabaikan oleh yang kuat. Bahkan peranan mereka yang kuat akan semakin menggilas mereka yang lemah. Dalam dunia bisnis, hal ini akan semakin dirasakan oleh kelompok-kelompok yang lemah dan yang kuat.

Siapa yang tidak mampu bersaing dalam dunia ini, ia akan digilas oleh kelompok yang kuat bersaing. Dengan demikian, kita akan menemukan realitas dunia bahwa yang semakin kuat akan menjadi semakin besar dan yang lemah akan menjadi semakin habis. Sebagai contoh, di pinggir jalan ada banyak toko kelontong dan warung-warung yang berjualan kebutuhan sehari-hari. Namun, di tengah-tengah mereka ada yang membuka supermarket. Apa yang terjadi? Semua orang beralih belanja ke supermarket, bukan ke toko kelontong dan warung-warung itu lagi! Semua orang lebih senang ke supermarket karena ruangannya bagus, full AC, bahkan ada banyak penawaran hadiah, dan banjir diskon. Yang kuat dalam sekejap menggilas yang lemah.

 Di satu sisi, orang yang berpihak pada yang lemah adalah orang-orang yang terus terkuras untuk memberi dan bukan menerima. Kehidupan yang terus mengalami “kerugian” daripada “keuntungan”. Di sisi lain, orang lebih senang menerima daripada memberi; lebih senang untung daripada rugi. Namun, jangan lupa bahwa orang yang memberi kepada yang lemah akan selalu diberkati oleh Tuhan dengan limpahnya. Amsal menggunakan kata “memiutangi Tuhan” yang maksudnya Tuhan berutang kepada kita yang mengasihi mereka yang lemah. Tuhan akan membalas utang berkat itu kepada mereka yang mengasihi orang-orang yang tersingkir. Jangan takut untuk mengasihi mereka yang lemah karena Tuhan justru memperhatikan orang yang demikian. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *