Renungan

Memutarbalikkan Kenyataan

Memutarbalikkan Kenyataan

 

Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN.

(Amsal 17:15)

 

A dan B adalah kakak beradik dengan selisih usia hanya 2 tahun. Kebetulan A dan B jatuh cinta kepada gadis yang sama, yakni C. Persaingan pun tak terhindarkan. A banyak bercerita tentang keburukan B, adiknya sendiri, kepada gadis pujaannya itu. Sementara pada kesempatan yang berbeda, B juga kerap kali membeberkan kelemahan A, kakaknya sendiri, kepada C. Tentu saja C menjadi bingung siapa yang harus ia percaya, A atau B. Mengapa menurut A hal-hal buruk itu dilakukan oleh B, tetapi menurut B justru A-lah yang melakukannya. Tampaknya salah satu dari A atau B telah memutarbalikkan kenyataan.

 

Pernahkah Anda menjumpai orang-orang yang memutarbalikkan kenyataan demi membenarkan dirinya, dan pada saat yang bersamaan ingin menghancurkan hidup orang lain? Apa yang Anda rasakan ketika melakukan hal yang benar, tetapi orang-orang tertentu justru melaporkan Anda melakukan hal yang salah? Atau bagaimana perasaan Anda ketika hasil karya tangan Anda ternyata diakui oleh orang lain di hadapan atasan Anda sebagai hasil karyanya sendiri?

 

“Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN” (Amsal 17:15).

 

Amsal ini adalah peringatan bagi orang yang suka memutarbalikkan kenyataan. Membela yang jahat dan menyalahkan yang benar. Maju tak gentar membela yang bayar. Walaupun korban ketidakadilan ini tak berdaya, jangan lupa ada Allah yang menjadi pembela. Hukuman Allah tidak akan luput bagi orang-orang yang gemar memutarbalikkan kenyataan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *