Khotbah Perjanjian Baru

Menang atas Godaan Dosa

Menang atas Godaan Dosa (Matius 4:1-11)

oleh: Pdt. Wahyu Pramudya

 

Setiap pencobaan, godaan, maupun ujian, senantiasa menggiring kita untuk membuat sebuah pilihan. Saat itulah ada dua pihak yang sedang mengamati hati dan pikiran kita. Pihak yang satu, yaitu Allah, berharap kita dapat mengatasi pencobaan itu, dan ingin agar kedewasaan iman kita semakin bertumbuh kuat melaluinya, sedangkan pihak yang lain, yaitu Iblis, sangat mengharapkan kejatuhan serta memakan buah kegagalan kita akibat pencobaan itu, yaitu dosa; sebab ia tahu bahwa apabila kita melakukan dosa atau sesuatu yang tidak diperkenankan Allah, perlahan-lahan kita akan mengalami kemunduran iman akibat rasa bersalah dan tidak layak yang terus menghantui pikiran dan hati kita. Dosa itu sendiri akan terus menarik kita keluar dari rencana Allah. Kita tidak dapat lari dari pencobaan. Bahkan, Yesus Kristus, Allah, yang menjadi Firman dalam wujud manusia di dunia ini pun tidak luput dari pencobaan yang dilakukan oleh Iblis. Berbeda dengan kita, tepat setelah berpuasa 40 hari 40 malam, Dia langsung berhadapan dengan Iblis yang mencobainya.

Sebagai manusia, kita kerap mengalami kesulitan dalam mengatasi pencobaan karena berbagai keterbatasan dan kelemahan kita. Tetapi, kebanyakan dari kita mengira bahwa Yesus tidak akan mengalami kesulitan dalam menghadapinya, karena Dia adalah Allah yang tidak terbatas. Yesus Kristus tidak pernah berbuat dosa, tetapi bukan berarti bahwa dalam kondisi-Nya sebagai manusia, pencobaan itu mudah untuk dihadapi. Justru sebagai manusia yang tidak pernah berdosa, Dia akan mengalami penderitaan yang besar akibat pencobaan dengan intensitas yang lebih besar dari manusia lain. Iblis akan berusaha mencoba untuk menjatuhkan-Nya dengan kekuatan terbesarnya. Bayangkan saja saya menekan gelas air mineral yang masih tertutup segel dengan tangan saya. Jika saya tahu kekuatan gelas plastik ini tidak terlalu besar, saya tidak akan menekannya terlalu kuat untuk dapat membuka segelnya. Tetapi, saya pun dapat melakukan tekanan itu sampai ke dasar sehingga airnya tumpah sebagai kekuatan maksimal saya. Iblis tahu kekuatan setiap kita. Apabila ia tahu bahwa seseorang tidak kuat imannya, ia tidak akan memberi pencobaan yang besar karena sedikit guncangan saja dapat merobohkan iman orang itu. Hanya orang-orang yang sering mengalami kemenangan atas dosa yang pernah merasakan pencobaan dengan intensitas yang besar. Itulah yang dihadapi oleh Yesus kala itu.

Tak terhindarkan. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kehadiran pencobaan dalam hidup kita. Jika Iblis saja berani mencobai Yesus, Anak Allah yang jauh lebih berkuasa darinya, tentu manusia tidak akan luput dari pekerjaan Iblis itu, terutama jika ia memandang kita pantas untuk dicobai. Sebuah kelompok kecil atau KTB sedang mengobrol seru mengenai pencobaan yang mereka hadapi. Masing-masing mengakui titik kelemahannya yang sering menjadi sasaran pencobaan Iblis. Pun mereka semua mengaku kewalahan dan merasa berat pada saat pencobaan itu mendera mereka. Ada seseorang yang ikut dalam pembicaraan itu. Ia adalah teman dari salah seorang anggota kelompok. Hidupnya selama ini begitu kacau dan rusak oleh perjudian, pemakaian narkoba, dan berbagai kecemaran dunia lainnya. Dengan tenang ia menanggapi keluh kesah mereka dengan berkata bahwa ia tidak pernah mengalami pencobaan dari Iblis. Ia merasa heran mengapa mereka begitu kerap digodai oleh si Jahat. Tetapi, temannya yang adalah anggota kelompok itu menepuk pundaknya, dan dengan nada bercanda ia berkata, “Tentu kau tidak pernah dicobai, lha wong kau itu temannya setan. Kau sering mengajak teman-temanmu mengikuti semua yang kau lakukan. Kau sendiri telah terperosok dalam kejatuhanmu di dalam dosa, jadi untuk apa Iblis bersusah payah mencobaimu sedangkan kau dengan senang hati telah melakukan perannya untuk mencobai manusia?” Iblis tidak akan bersusah payah membuang tenaganya untuk mencobai orang-orang yang tidak layak untuk dicobai, yaitu mereka yang dengan mudah terperosok dalam jurang dosa, atau mereka yang justru membantu dia untuk membuat orang lain jatuh dalam dosa. Hanya orang-orang yang dalam jatuh bangun kehidupan imannya kerap berjuang keras untuk memenangkan imannya dari pencobaan yang dianggap layak untuk dicobai dalam intensitas yang besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *