Khotbah Perjanjian Baru

Menang atas Godaan Dosa

Ada dua perspektif mengenai pencobaan yang perlu senantiasa kita ingat. Tatkala kita masih terus berada dalam ancaman pencobaan, itu berarti Iblis senantiasa menganggap kita sebagai musuh yang harus dijatuhkan. Dari perspektif Allah, pada saat kita dicobai, Dia mengizinkannya karena menganggap bahwa kita sanggup mengatasinya. Akan tetapi, dari perspektif manusia, acap kali kita tidak mengetahui cara mengatasi pencobaan yang kita hadapi. Sebelum saya menguraikan lebih jauh mengenai bagaimana kita dapat mengatasi pencobaan, saya mengajak Anda untuk mengingat bagaimana pencobaan itu pada awalnya terjadi dalam hidup kita, dengan juga melihat pencobaan yang Yesus alami. Yesus dicobai setelah Dia berpuasa 40 hari 40 malam. Sesudah masa itu tentunya ia merasa sangat kelaparan. Oleh sebab itu, pencobaan pertama yang ditawarkan oleh Iblis adalah, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti,” (Matius 4:3). Yesus berada dalam keadaan yang sangat lapar dan ingin sekali makan, serta si penggoda menawarkan apa yang menjadi kebutuhan-Nya saat itu.

 

Pelajaran pertama: godaan sering kali masuk ke dalam kehidupan kita dari pintu yang bernama kebutuhan.

 

Tidak ada yang salah dengan kebutuhan itu sendiri. Tetapi, masalah timbul manakala Iblis berusaha menawarkan cara untuk memenuhi kebutuhan itu dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Allah. Iblis berusaha memengaruhi Yesus untuk mempergunakan kuasa-Nya untuk memenuhi rasa lapar-Nya dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Bapa karena Yesus sadar bahwa kuasa yang dimiliki-Nya tidak seharusnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan-Nya sendiri, melainkan untuk menolong dan memenuhi kebutuhan manusia.

Godaan dapat masuk melalui pintu kebutuhan dan si Jahat akan menawarkan bantuannya untuk memenuhi kebutuhan itu dengan caranya yang jahat dan tidak seturut dengan kehendak Allah. Masalah terjadi apabila kita menuruti hawa nafsu yang timbul akibat keinginan kita yang telah dipengaruhi Iblis untuk memenuhi kebutuhan itu dengan cara yang ditawarkannya. Anehnya, pencobaan itu pada awalnya terasa sangat menggoda dan menyenangkan. Tetapi, setelah kita memuaskan hasrat kita, seketika itu juga kita dihujani oleh berbagai perasaan bersalah, tidak layak dihadapan Allah, tidak kudus, jahat, najis, dan semua dakwaan yang membuat kita sangat depresi. Perasaan-perasaan itu tidak mudah hilang dari hati kita. Kemudian ada dua jenis reaksi yang akan kita lakukan setelah semua itu terjadi. Yang pertama adalah setelah kita merasa bersalah, kita menyesalinya dan meninggalkan perbuatan jahat kita. Sebaliknya, reaksi yang kedua, yang bertentangan dengan reaksi pertama adalah semakin dalam menceburkan diri dalam dosa karena merasa kepalang basah, seolah-olah tidak dapat keluar lagi dari semua kesalahan kita. Reaksi yang kedua ini membuat kita makin jauh dari kehendak dan rencana Allah, kemudian antrean masalah serta pergumulan menanti di depan kita. Hati-hatilah, godaan selalu menyentuh titik kebutuhan kita. Apabila kita sakit, godaan itu dapat muncul dalam bentuk tawaran kesembuhan. Dalam kondisi kesulitan keuangan, kita akan dicobai untuk memenuhi kebutuhan itu. Ketika kita merasa marah, Iblis menawarkan cara yang seolah-olah baik untuk menuntaskannya, padahal cara itu tidak diperkenan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *