Renungan Berjalan bersama Tuhan

Menang dan Kalah

Menang dan Kalah

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Korintus 24:24-27

Ada seseorang memberikan komentar di sebuah acara di radio swasta untuk mengungkapkan kekhawatirannya tentang pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan datang. Apa yang menjadi kekhawatirannya? Ia berkata, “Bangsa kita belum siap untuk berkompetisi, termasuk semua pemimpinnya. Saya khawatir bahwa para pemimpin kita dengan segala pengikut mereka belum siap untuk kalah. Pada saat berkompetisi dan kemudian kalah, mereka akan mengacaukan bangsa ini. Mereka akan melakukan kekerasan atau huru-hara di mana-mana. Mereka berusaha menciptakan instabilitas dengan tujuan untuk menghancurkan yang menang.” Komentar ini ternyata mendapat sambutan yang cukup antusias, bukan berupa bantahan, melainkan dukungan.

Memang tidak mudah menerima kekalahan dari teman sendiri atau dari saingan. Mengapa demikian? Salah satu penyebab orang tidak mampu menerima kekalahan adalah karena proses pendidikan yang salah dan karena hal tersebut sudah diajarkan bertahun-tahun, bahkan berabad-abad sehingga membudaya. Orang menilai kekalahan sebagai suatu kegagalan, kehancuran, atau hal yang sangat menyakitkan. Maka supaya tidak kalah, orang memakai segala cara untuk menang atau menghancurkan saingannya yang sudah menang.

 

Oleh karena itu, jarang ada orang yang kalah memandang dengan lapang dada kekalahannya sebagai pelajaran yang indah dan mahal, lalu dengan jiwa besar ia memberikan ucapan selamat dan dengan penuh sukacita menyatakan bahwa ia akan memberikan dukungan kepada si pemenang untuk melaksanakan programnya dengan baik.

 

Jika sikap yang kedua ini dimiliki oleh para pemimpin dan masyarakat kita, maka kompetisi pemilihan presiden dan wakil presiden akan berjalan aman. Contoh yang  baik adalah Amerika Serikat yang sudah membangun proses demokrasi yang sehat. Jelas bangsa yang demikian adalah bangsa yang sudah melalui proses pendidikan yang panjang. Kompetisi atau pertandingan merupakan bagian dari ujian kemampuan diri sehingga kekalahan merupakan pelajaran yang indah dan mahal. Disebut mahal karena telah mengeluarkan biaya yang besar, tenaga dan pemikiran yang sangat berat, emosi yang mencekam, dan sebagainya. Karena itu, kekalahan menjadi pelajaran yang perlu dikaji ulang dengan penelitian-penelitian yang baik dan evaluasi yang matang sehingga pada waktu yang akan datang ia siap berkompetisi kembali. Memang dalam pertandingan itu hanya akan muncul satu pemenang. Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Karena hanya ada satu pemenang, maka kekalahan merupakan pelajaran yang indah untuk bangkit dan berjuang kembali dalam kompetisi yang baru. Hal inilah yang seharusnya terus diajarkan kepada generasi kita saat ini. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *