Khotbah Perjanjian Lama

Menantikan Allah

Menantikan Allah

Mazmur 37:7

oleh: Jenny Wongka †

Menanti adalah hal yang paling sulit untuk kita lakukan! Saat pertama kali berangkat menuju Amerika, hati saya diliputi dengan berbagai pikiran yang campur baur, kekalutan, kekhawatiran untuk adaptasi dengan bahasa dan kebudayaan serta cara belajar yang berbeda di negara orang. Masih harus ditambah lagi dengan ujian menanti yang saya hadapi. Pesawat menuju Denpasar dan seterusnya harus ganti pesawat menuju Los Angeles. Kepada kami disampaikan bahwa kami akan menunggu penerbangan berikutnya setelah istirahat di ruang tunggu selama  3 jam 45 menit. Bayangkan, hari itu saya harus menanti selama 3 jam 45 menit! Suatu pekerjaan yang sangat menjemukan!

Kita tidak pernah bisa luput dari menanti! Tiap hari dalam kehidupan ini, pengalaman menanti selalu mewarnai hidup kita. Menanti giliran di ruang tunggu dokter, menanti tibanya jam pulang kerja, menanti pulangnya suami dari luar kota, menanti anak-anak pulang dari sekolah dan seterusnya ….

Menanti adalah pelajaran yang paling sulit pula di dalam kehidupan Kristiani kita: Menantikan jawaban doa kita dari Tuhan, menantikan Tuhan untuk bertindak, menantikan Tuhan untuk menghantar kita melewati kesulitan.

Benar, menanti itu sulit sekali. Namun hal ini pula yang Allah tuntut untuk kita lakukan. Mazmur 37:7 berbunyi, “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia.” Terjemahan lain ada yang berbunyi, “Nantikanlah Dia dengan sabar.” Bukan hanya menantikan, tetapi menanti dengan penuh kesabaran. Berkat Tuhan akan dicurahkan secara berlimpah kepada orang yang mempraktikkan kesabarannya di dalam penantian terhadap Tuhan. Selanjutnya dalam ayat 9 pemazmur berkata, “Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri.” Saya tidak tahu persis apa artinya “mewarisi negeri” di dalam ayat ini, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa anak-anak Tuhan yang dengan sabar menantikan Tuhan akan memperoleh berkat Tuhan yang besar dan berlimpah, bagaikan orang yang mendapatkan bumi ini.

Selanjutnya, marilah kita melihat apakah makna bagi kehidupan kita jika dengan sabar kita menantikan Tuhan.

 

Menanti dengan Sabar, Maka Allah Akan Menjawab

Kadangkala, doa-doa kita dijawab dengan segera. Namun yang paling sering adalah Allah menginginkan kita menanti jawaban doa itu. Dalam Lukas 18:1 “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Dengan kata lain, Tuhan Yesus berharap kita berdoa, dan terus berdoa pantang menyerah.

Pada suatu pagi seorang wanita menelepon ke kantor aula opera, mengatakan kepada manager gedung itu bahwa ia telah kehilangan sebuah hiasan peniti yang bertaburkan berlian tatkala ia menghadiri konser semalam di gedung itu. Ia memberitahukan lokasi tempat duduknya, dan memohon agar manager itu pergi mencari apakah peniti itu terjatuh di sana. Manager itu memintanya untuk menanti sebentar sambil berlari untuk mengeceknya. Setelah mencari di sekitar lokasi tempat duduk tersebut, betapa senangnya hati sang manager ini sebab ia menemukan peniti tersebut. Ia segera berlari menuju teleponnya dan dengan segera ingin menyampaikan berita gembira kepada wanita ini. Sayang sekali, wanita itu tidak sabar menanti, ia telah memutuskan hubungan telepon. Berita gembira yang dinantikan itu justru tidak diterimanya. Sang manager dengan sabar masih menantikan adanya telepon balik atau kedatangan wanita itu, namun hari demi hari, minggu demi minggu, wanita itu tak kunjung datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *