Renungan Berjalan bersama Tuhan

Mencintai Hidup

Mencintai Hidup

oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Petrus 3:8-12

Apakah kita orang yang mencintai hidup? Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada kita, pasti kita dengan tegas, lugas, dan mantap menjawab, “Ya, saya mencintai hidup saya!” Kita semua pasti setuju dengan jawaban itu. Namun, bagaimana kita bisa mencintai hidup? Pertanyaan ini yang tidak mudah dijawab. Sulit dijawab karena jawaban yang harus diberikan itu membutuhkan penjelasan atau keterangan yang benar-benar berbicara mengenai masalah realitas hidup kita sehari-hari. Apakah kita ini memang orang yang benar-benar mencintai hidup atau justru sebaliknya, menjadi orang yang membenci diri sendiri, meremehkan, atau melecehkan diri sendiri, sehingga melalui sikap itu orang lain merendahkan kita? Entah sadar atau tidak, kita sering melakukan sesuatu yang membuat orang lain tidak menghargai, menghina, merendahkan, atau mengejek kita. Jika dicermati, sebenarnya bukan kemauan mereka untuk menghina atau merendahkan kita, tetapi karena kata-kata, sikap, dan tingkah laku kita sendirilah yang membuat mereka merendahkan kita.

Itulah yang diamati oleh Petrus. Ia berkata, “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu” (1 Petrus 3:10). Agaknya Petrus mengalami hal itu. Orang dengan mudah bisa mengatakan “Mencintai Hidup”, tetapi pada kenyataannya, ia kerap tidak dapat menjaga ucapannya terhadap yang jahat dan yang menipu. Petrus dilecehkan dan dihina orang karena ia tidak jujur! Ia berani bersumpah bahwa ia tidak mengenal Tuhan Yesus, padahal banyak orang tahu bahwa ia murid-Nya. Orang banyak mencemooh Petrus. Hal itu karena kata-kata yang keluar dari lidah dan bibirnya menyangkal bahwa ia mengenal Tuhan Yesus. Orang menjadi tidak menghargainya sebagai murid yang berani mati untuk Guru-Nya.

Apa yang ditulis oleh Petrus merupakan pengalaman hidupnya. Ia bermaksud ingin berkata, “Jika engkau mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, maka engkau harus mengendalikan lidah dan bibirmu dengan kata-kata yang baik dan benar. Karena dengan kata-kata yang benar, banyak orang akan memercayai apa yang engkau katakan dan dilakukan.” Terlepas dari pengalaman-pengalaman yang membawa pada penderitaan, ancaman, atau penganiayaan, Petrus tetap dituntut berbicara jujur. Melalui pegalamannya yang tidak mengenakkan itu, Petrus melihat dan belajar apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Apa yang dikatakan dan yang dilakukan oleh Yesus didasari kejujuran dan keberanian sekalipun kayu salib menghadang-Nya. Melalui kayu salib itulah Petrus dicelikkan kembali tentang siapa Tuhan Yesus sebenarnya! Pemahaman  mengenai “Mencintai Hidup” bukan hanya sebatas ingin merasa nyaman di dunia ini atau bisa menikmati berkat Tuhan semata. “Mencintai Hidup” itu sampai pada pemahaman tentang jaminan hidup yang kekal. Orang yang berpikir jauh sampai pada pemikiran tentang hidup kekal, itulah orang yang mencintai hidup. Mengapa? Karena bila orang hanya memikirkan hidup yang sekarang di dunia ini, maka akhir hidupnya menuju pada kebinasaan. Apakah yang demikian itu dapat dikatakan orang yang mencintai hidup? Tidak, bukan? Orang yang mencintai hidup akan berpikir bagaimana cara hidup yang baik sekarang ini bersama Kristus sampai mendapatkan jaminan dalam anugerah keselamatan-Nya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *