Renungan

Menerima Teguran

Menerima Teguran

Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi.

(Amsal 27:5)

Suatu kali saya lepas kendali. Kata-kata saya menjadi tajam dan tentu saja melukai lawan bicara. Suasana yang tenang berubah menjadi tegang karena lawan bicara saya pun terbawa emosi. Pertemuan berakhir tidak menyenangkan.

 

“Seharusnya bapak tidak mengatakan kalimat itu. Ada cara yang lebih baik untuk mengutarakan maksud yang sama,” tegur seorang rekan sepelayanan kepada saya esok harinya. Saya terdiam mendengarkan tegurannya. Rekan itu kemudian memberitahu bagaimana menyampaikan hal yang sama dengan cara yang lebih baik. Akhirnya, saya pun belajar satu keterampilan baru.

 

“Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi” (Amsal 27:5). Mengapa? Karena lewat teguran itu kita akan mendapatkan masukan yang berguna untuk memperbaiki diri. Ketika kita terus memperbaiki diri, maka kualitas hidup kita pun makin meningkat.

 

Memang mendengarkan teguran terasa tidak enak sejenak. Apalagi bila teguran itu disampaikan secara terbuka di hadapan orang lain. Namun, ketika kita membela diri dan menolak mengoreksi diri, maka teguran itu tidak akan membawa arti. Teguran itu hanya akan meninggalkan rasa sakit hati.

 

Daripada sakit hati, mari kita jadikan teguran itu sebagai bahan memperbaiki diri. Bersyukurlah untuk orang-orang yang menegur kita sebab mereka sedang memberitahu apa saja yang harus kita perbaiki.

(Wahyu Pramudya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *