Khotbah Topikal

Mengapa Kita Harus Memberikan Persepuluhan?

Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Kejadian 28:10-22

Membicarakan tentang persepuluhan hampir selalu akan menimbulkan perdebatan. Sebagian orang menanggap persepuluhan sudah tidak berlaku lagi. Sebagian meyakini bahwa persepuluhan masih mengikat orang Kristen.

Bahkan di kalangan mereka yang menjalankan persepuluhan, beragam perdebatan teknis masih bermunculan. Kepada siapa persepuluhan harus diberikan? Apakah 1/10 dari pendapatan atau keuntungan? Apakah harus setiap bulan? Kita tentu saja masih dapat memperpanjang pertanyaan yang ada.

Khotbah hari ini tidak dimaksudkan sebagai jawaban tuntas untuk semua pertanyaan tersebut. Khotbah ini hanya sebagai peringatan agar orang-orang Kristen tidak terjebak pada legalisme seputar persepuluhan. Maksudnya, kita perlu memahami bahwa memberikan persepuluhan sebenarnya lebih berkaitan dengan hati daripada peraturan, lebih sebagai bentuk ucapan syukur daripada keterpaksaan.

Teks hari ini bukanlah teks pertama yang membicarakan tentang persepuluhan (bdk. Kej 14:20). Kejadian 28:10-22 juga tidak mengupas semua hal tentang persepuluhan. Misalnya, teks ini tidak menginformasikan secara eksplisit kepada siapa Yakub memberikan persepuluhan. Bagaimana pun juga, teks ini mengajarkan prinsip dan alasan pemberian persepuluhan yang indah.

Krisis Kehidupan (ayat 10-11)

Semua orang pasti pernah berada dalam sebuah krisis. Sebagian bahkan menghadapi krisis yang sangat berat, rumit, dan menentukan dalam kehidupan mereka. Demikian pula dengan Yakub.

Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan: hak kesulungan dan berkat dari ayahnya (25:30-34; 27:27-29). Apa yang dijanjikan oleh Allah sejak ia berada dalam kandungan sudah mulai digenapi, yaitu ia mendapatkan berkat lebih banyak daripada Esau (25:23). Persoalannya, semua ini ia peroleh melalui cara-cara yang keliru. Ia memperdayai kakak dan ayahnya. Bahkan untuk memuluskan penipuannya terhadap sang ayah, Yakub tidak segan-segan menggunakan nama TUHAN secara sembarangan dengan mengatakan: “Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku” (27:20b).

Sesuatu yang diraih secara tidak benar pada akhirnya menimbulkan berbagai masalah serius. Kini nyawa Yakub terancam oleh kakaknya (27:41-42). Jika ia terbunuh, bukankah hak kesulungan dan berkat dari Ishak tidak akan ada artinya sama sekali? Ia pun sekarang harus pergi ke Haran (28:1). Bukankah hal ini merupakan langkah mundur yang signifikan karena Abraham justru dipanggil dari Haran (11:31-12:1-5; Kis 7:2-4)? Pada masa-masa seperti ini, hak kesulungan maupun berkat dari ayahnya seolah-olah tidak ada artinya apa-apa bagi Yakub.

Keluar dari lingkungan keluarga besar juga berarti sebuah ancaman kehidupan yang serius. Masyarakat kuno hidup secara berkelompok, terutama bagi mereka yang masih nomaden (berpindah-pindah tempat). Hidup sendirian seringkali identik dengan bahaya.

Perjalanan yang Yakub harus tempuh pun terbilang sangat jauh. Bersheba ke Haran berjarak ratusan kilometer. Butuh waktu berhari-hari untuk mencapai tujuan. Yakub juga tampaknya tidak terlalu menguasai rute perjalanan dengan baik. Ayat 11 menyiratkan bahwa tempat istirahat yang ia pilih bukanlah tempat istirahat yang umum yang biasa digunakan oleh para pelancong. Kata Ibrani “sampai” (wayyipga”) di awal ayat ini menekankan keacakan pilihan Yakub untuk bermalam. Pilihan acak ini lebih didorong oleh pertimbangan waktu (“karena matahari telah terbenam”). Lagipula, tempat bermalam itu adalah tempat yang kudus, sehingga tidak mungkin dijadikan tempat bermalam publik oleh para pelancong. Intinya, Yakub benar-benar berada di suatu tempat antah-berantah dan maut dapat menjemput dia kapan pun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *