Khotbah Perjanjian Baru

Mengasihi Diri Sendiri

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari

Matius 22:34-46

“Mengasihi diri sendiri” adalah tema yang tidak lazim, karena itu saya beri tanda baca “?”. Biasanya kita membahas tentang mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Apa tidak salah? Bukankah Alkitab mengajar agar kita menyangkal diri, memikul salib, bahkan mengorbankan diri seperti Kristus? Apakah mengasihi diri sendiri tidak bertentangan dengan semuanya itu?

Jawabnya adalah: Tergantung dari apa yang dimaksud dengan mengasihi diri sendiri. Jika yang dimaksud adalah cinta diri, narsis, mengasihani diri, egois, dan berpusat pada diri sendiri, jelas bertentangan dengan firman Tuhan. Mengasihi diri sendiri yang dimaksud di sini bukan itu..

Kalau begitu…

Apa yang Dimaksud dengan Mengasihi Diri Sendiri?

Mengasihi diri sendiri yang dimaksud adalah mengasihi diri sendiri secara sehat, seperti Tuhan mengasihi kita. Bagaimana Tuhan mengasihi kita? Max Lucado dalam bukunya “Just Like Jesus” mengatakan bahwa Tuhan menerima kita apa adanya, tetapi tidak membiarkan kita seadanya.

Jadi, bagaimana Tuhan mengasihi kita?

Pertama, Tuhan mengasihi kita dengan menerima diri kita apa adanya, diri kita yang sejati dengan segala kemanusiaan kita: pikiran kita, emosi kita, kehendak kita. Kasih-Nya tidak berkurang karena kita jatuh ke dalam dosa dan tidak juga bertambah karena kita berbuat baik.

Dia mengasihi diri kita, bukan apa yang kita lakukan. Bahkan jika kita tidak berbuat apa-apa atau mengecewakan Dia pun, Dia tetap mengasihi kita.

Roma 5:8 berkata: “Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.”, bukan ketika kita baik. Allah mengasihi kita tanpa syarat apa pun. Dia menerima Daud yang pernah jatuh dalam perzinahan dan pembunuhan, Dia menerima Petrus yang pernah menyangkal-Nya, Dia menerima Thomas yang pernah meragukannya, Dia menerima saudara dan saya sekalipun banyak sekali cacad celanya. Dia mengasihi kita apa adanya, bahkan rela mati untuk menyelamatkan kita.

Jadi, mari kita juga belajar mengasihi diri sendiri tanpa syarat. Meskipun kita punya banyak kelemahan trima saja, syukuri, karena kita juga pasti punya kelebihan. Jangan hanya menghitung kelemahan-kelemahan kita melainkan juga kelebihan-kelebihan yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Orang yang mengasihi diri sendiri merasa nyaman dengan dirinya sehingga tidak punya pikiran untuk ingin, apalagi menuntut diri menjadi seperti orang lain.Sadar akan keterbatasan diri sehingga tidak menuntut diri sempurna dan tidak hancur bila mengalami kegagalan.

Apakah berarti kita lalu berhenti bertumbuh? Justru sebaliknya! Penerimaan diri memberi kekuatan untuk bertumbuh secara sehat. Mengapa? Karena Allah tidak hanya menerima diri kita apa adanya, tetapi….

Kedua,  Allah juga tidak membiarkan kita seadanya. Dia  memangkas, memahat, mendidik dan membentuk kita, terkadang melalui berbagai hal yang menyakitkan, tetapi itu Dia lakukan dalam konteks penerimaan bukan penolakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *