Khotbah Perjanjian Baru

Mengasihi Diri Sendiri

Hari ini banyak orang marah bahkan memukul anaknya dengan dalih mendidik, padahal sebenarnya sedang melampiaskan kemarahan. Maka tidak heran jika banyak anak semakin dipukul semakin memberontak karena mereka merasa bahwa orang tua mereka menolak pribadi mereka.

Demikian juga banyak orang gagal bertumbuh walaupun sudah berusaha dengan sangat keras, sebab dia sebenarnya membenci dan menolak dirinya sendiri dan selalu bertanya-tanya: “Mengapa Tuhan menciptakan mahluk sejelek saya?”

Tetapi Tuhan tidak seperti itu. Dia menerima pribadi kita apa adanya lebih dahulu, sehingga, ketika Dia marah, bahkan memukul sekalipun, Dia melakukannya murni untuk kebaikan kita, tidak ada sedikitpun motivasi yang egois. Tujuannya hanya satu: agar kita bertumbuh semakin serupa dengan Tuhan Yesus agar sebagai dampaknya kita menikmati hidup berkelimpahan yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada setiap orang percaya.

Itulah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus ketika Dia berkata: “Hendaklah engkau sempurna seperti Bapa di Sorga sempurna.” Firman Tuhan ini diberikan sebagai anugerah kepada orang-orang yang sudah mengalami kasih-Nya yang tidak bersyarat, bukan sebagai tuntutan kepada mereka yang belum mengalami kasih Allah.

Sempurna dalam ayat tsb artinya bertumbuh penuh, contohnya, anak umur 1 tahun bisa berjalan, umur 3 tahun bisa buang air di tempat yang benar, umur 5 tahun bisa makan sendiri, dll. Tidak mungkin anak umur 1 tahun dituntut untuk bisa makan sendiri, dst.

Jadi, perintah untuk menjadi sempurna sama seperti Bapa di Sorga adalah sebuah proses yang akan mengalami kegenapannya yang sempurna ketika Tuhan Yesus datang ke dua kalinya. Jika kita menuntut diri kita saat ini sempurna tanpa cacat, apalagi dengan usaha dan kekuatan sendiri, berarti kita tidak mengasihi diri sendiri. Orang yang seperti ini tidak mungkin bisa mengasihi orang lain sebab dia juga akan menuntut orang lain sempurna.

Saya mengenal seorang ibu yang seperti ini. Sejak kecil orang tuanya selalu berkata: “Kamu anak pertama, harus ngalah sama adik-adikmu, harus berkorban untuk mereka, dst.” Akibatnya dia tumbuh menjadi orang yang perfeksionis. Tidak peduli sakit, tetap pergi ke persekutuan doa pagi,  bekerja dengan sangat keras, dan melakukan semua yang biasa dia lakukan tanpa henti dan merasa bersalah jika beristirahat. Akibatnya, dia sering dimanfaatkan baik oleh adik-adiknya, suaminya dan orang-orang lain yang mengenalnya. Hidupnya sangat menderita, tetapi dia merasa bahwa itu kehendak Tuhan, bahkan bangga karena dia bisa menderita seperti Kristus. Benarkah?

Apakah Tuhan menghendaki kita dimanfaatkan orang lain? Ini penipuan iblis! Dia tidak sadar bahwa dengan demikian dia justru telah merusak hidup banyak orang, termasuk  anak-anaknya, karena sejak kecil mereka dituntut untuk bisa melakukan segala sesuatu melampaui usianya. Anak-anak itu tumbuh sebagai pribadi yang keras, penuh kepahitan, dan sulit untuk menerima dan bekerja sama dengan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *