Khotbah Perjanjian Baru

Mengasihi Diri Sendiri

Tuhan ingin kita mengasihi diri sendiri secara sehat, menerima diri sendiri apa adanya dan kemudian dengan anugerah-Nya bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian kita bisa mengasihi orang lain secara sehat pula. Sayangnya, banyak orang yang tidak mampu melakukannya. Mengapa? Ada banyak penghalang!

Penghalang untuk Mengasihi Diri Sendiri

Penghalang utama untuk mengasihi diri sendiri adalah karena kita belum mengalami kasih Allah. Secara teori setiap orang Kristen tahu bahwa Allah mengasihi kita all out. Dia telah menyerahkan segala-galanya, bahkan nyawa-Nya sendiri demi untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Namun, tidak semua orang percaya mengalami kasih itu secara nyata dalam setiap aspek hidupnya.

Banyak orang Kristen hidup dengan penuh kontradiksi. Di pikiran tahu bahwa Allah mengasihinya tanpa syarat, tetapi perasaannya mengatakan yang sebaliknya.

Suatu hari, saya bertanya kepada ibu yang saya ceritakan tadi, mengapa tidak beristirahat saja di rumah, bukankah sedang sakit? Dia menjawab: “Saya takut kalau Tuhan tiba-tiba datang pada saat saya tidak ke gereja padahal seharusnya ke gereja.” Artinya, sebenarnya ibu ini tidak yakin bahwa Tuhan mengasihi dia tanpa syarat. Bagi dia, kasih Tuhan itu bersyarat. Tuhan mengasihi dia kalau dia rajin ke gereja, rajin melayani, rajin berdoa, dst. Ketika saya tanya: “Apakah ibu merasa Tuhan tidak mengasihi ibu?” Dia menjawab dengan ekspresi takut: “Tentu saja Tuhan mengasihi saya! Alangkah kurang ajarnya jika saya berani berkata bahwa Tuhan tidak mengasihi saya. Bukankah Dia sudah mati bagi saya?” Artinya, di pikiran, secara teori dia tahu bahwa Allah mengasihinya, tetapi di hati, sebenarnya tidak percaya. Itulah sebabnya dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena takut dihukum. Bagi dia kasih Allah itu bersyarat. Akibatnya, dia tidak bisa mengasihi dirinya sendiri dan tidak bisa mengasihi orang lain.

Lalu..

Apa yang Menjadi Penghalang untuk Menikmati Kasih Allah?

Pertama, pengaruh filsafat dunia tentang apa yang membuat diri kita berharga.

Kita sulit untuk menikmati kasih Allah, karena sejak kecil, secara langsung maupun tidak langsung melalui apa yang kita lihat dari kehidupan orang-orang disekitar kita, kita diajarkan bahwa hidup kita berharga jika kita pandai, kaya, cantik, memiliki banyak gelar, berjabatan tinggi, populer, memiliki karakter sempurna, dst.

Contoh: seorang anak dihukum  karena nilai matematikanya 6. Bukan hanya dihukum, tetapi juga dibandingkan dengan anak lain yang nilainya 10. Apa dampaknya?  Secara tidak langsung kepada anak itu sedang dinanamkan perasaan bahwa, karena nilai matematikanya jauh di bawah standar, maka dirinya bodoh dan tidak berharga dan oleh karenanya wajar kalau Allah menolaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *