Khotbah Perjanjian Baru

Mengasihi Diri Sendiri

Orang seperti ini, walaupun tahu secara teori bahwa Allah mengasihinya, sangat sulit untuk bisa mengalami kasih itu secara konkrit, karena di dalam lubuk katinya, ia selalu merasa ditolak. Akibatnya, ia juga tidak bisa menerima dirinya sendiri sebagaimana adanya dan oleh karenanya tidak bisa juga menerima orang lain sebagaimana adanya. Hidupnya akan penuh dengan penghakiman.

Kedua, cara beragama yang legalistik

Cara beragama yang legalistik adalah cara beragamanya orang Farisi dan Ahli Taurat. Agama legalistik mengajarkan bahwa menjadi orang Kristen itu identik dengan melakukan berbagai macam peraturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Bahwa Allah itu hakim yang kejam, yang setiap saat mengawasi kita dan siap menghukum kita setiap kali kita melakukan kesalahan. Orang seperti ini hidupnya sangat tegang, selalu was-was kalau salah dan kalau jatuh akan cenderung hancur.

Ketiga, berbagai pengalaman yang menyakitkan pada masa lalu terutama yang dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Orang yang pernah diusahakan untuk digugurkan, mengalami pelecehan baik fisik maupun verbal, dibanding-bandingkan dengan orang lain, dll, jauh di dalam lubuk hatinya merasa tertolak sehingga sangat sulit untuk menerima kasih Allah.

Bagi Dia Allah itu tidak peduli dan oleh karenanya juga sulit mengasihi diri sendiri apalagi mengasihi orang lain.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Mari kita mohon Roh Kudus menolong kita untuk mengenali ajaran-ajaran yang salah yang tanpa kita sadari sudah berakar di dalam hati dan pikiran kita.

Hal-hal apa yang membuat kita merasa berharga? Apa yang kita pahami tentang kekristenan? Adakah pengalaman-pengalaman yang menyakitkan yang membuat kita sulit menerima kasih Allah? Siapa pun kita, apapun yang kita lakukan atau tidak lakukan dan bagaimanapun kondisi kita, kita berharga di mata Tuhan.

Kebenarannya adalah, Dia menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya. Dia menebus kita dengan darah-Nya. Dia merencanakan yang terbaik untuk kita.

Kekristenan bukan soal melakukan hukum yang boleh dan tidak boleh dilakukan, melainkan sebuah relasi pribadi dengan Bapa yang sempurna.

Kalau pun orang-orang yang seharusnya melindungi kita telah menyakiti kita, Tuhan tidak pernah tidur. Dia senantiasa menjaga kita. Ketika kita menangis, Dia menangis bersama kita. Dia bahkan menanggung segala yang terburuk bagi kita

Suatu hari, saya mendampingi seorang pemudi di dalam doa pemulihan, Tuhan memperlihatkan kepadanya  ketika dia dilukai oleh ibunya. Dia merasakan kembali luka itu, tetapi di tengah-tengah rasa sakitnya, dia melihat Tuhan Yesus berdiri di depannya dengan membuka tangannya dan dia berlari ke pelukannya. Dia melepaskan pengampunan untuk ibunya dan dipulihkan. Sejak saat itu, dia mulai bisa mengasihi dirinya sendiri dan relasinya dengan orang lain juga berubah. Dia mulai bisa menerima kelemahan orang lain dan mengasihi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *