Renungan Berjalan bersama Tuhan

Mengasihi

Mengasihi

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Ulangan 6:1-11

Bukan sesuatu yang berlebihan jika orangtua mengatakan kepada anak-anaknya, “Kasihilah papa mamamu ini.” Terlebih bila kasih itu melibatkan pengorbanan yang besar. Ada sepasang suami istri yang sangat mengasihi Tuhan. Sejak remaja mereka sudah melayani Tuhan hingga mereka berpacaran dan memutuskan untuk menikah. Keluarga baru ini tidak surut dalam melayani Tuhan. Mereka semakin giat melayani. Sang suami menjadi penatua dan sang istri melayani aktif di paduan suara dan pelayanan misi. Keluarga ini dikaruniai anak tunggal, seorang putra yang sangat mereka kasihi. Namun, anak ini sudah memiliki kelainan sejak dalam kandungan sehingga ia lahir dalam kondisi cacat mental. Setelah tumbuh besar, tubuh anak ini cukup berat, kurang lebih 80 kg. Yang menarik, berat sang ibu hanya 47 kg. Anak itu dirawat sendiri tanpa seorang pembantu atau suster sejak ia lahir sampai usia enam belas tahun sekarang ini. Bahkan sang ibu rela meninggalkan kariernya untuk merawat anak tunggalnya itu. Yang lebih mengejutkan, setiap pagi dan sore, ibu ini menggendong anak itu tanpa merasa berat sedikit pun.

Suaminya melihat si istri menggendong anak mereka seperti mengangkat beban 25 kg saja. Pertanyaan yang muncul, mengapa ibu ini kuat mengangkat anak itu? Suaminya sambil bercanda berkata, “Istri saya belum tentu kuat mengangkat saya yang berbobot 75 kg.” Mereka berdua menyatakan bahwa hanya karena kasih yang ada di dalam hati sang ibu, maka ibu itu kuat mengangkat anaknya dengan mudah! Kasih kepada sang anak itu membuat segala sesuatu terasa ringan. Dan anak itu benar-benar dapat merasakan kasih sang ibu. Dengan segala keterbatasan pikiran dan kemampuannya, apa pun yang dikatakan sang ibu ditaati oleh anak ini. Ia benar-benar menuruti apa yang diperintahkan ibunya. Kasih itu terpancar kembali dari dalam dirinya untuk dikembalikan pada sumber kasih, yakni hati sang ibu yang dengan tulus mengasihinya! Ibu ini tidak meminta untuk dikasihi kembali karena dari hatinya terus mengalirkan kasih kepada anaknya. Itu bukan sekadar tugas rutin seorang ibu. Kasih sejati tidak dikatakan dan diungkapkan hanya melalui bibir dan perkataan, tetapi dinyatakan, dilakukan, dan dirasakan.

 

Firman Tuhan datang kepada Musa dan umat-Nya Israel, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan” (Ulangan 6:4-6). Allah jauh melebihi ibu yang mengasihi anaknya tadi. Tidak berlebihan kalau Allah menuntut kita untuk mengasihi Dia dalam keseluruhan hidup kita. Kasih itu diwujudkan melalui ketaatan kita pada perintah-Nya, sama seperti anak tadi yang menaati setiap perkataan sang ibu. Itulah yang disebut mengasihi! Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *