Renungan

Mengoleksi Pujian

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.

Amsal 27:2

Suatu kali setelah selesai melayani sebuah kebaktian, seorang pemuji yang tadi mempersembahkan pujian bertanya, “Bagaimana menurut pendapat Bapak? Suara saya tadi ok, ‘kan?” Saya hanya terdiam dan memikirkan pertanyaannya. Pertanyaan pertama “Bagaimana menurut pendapat Bapak?” masih merupakan pertanyaan yang umum. Namun, pertanyaan kedua “Suara saya tadi ok, ‘kan?” terasa seperti sebuah pertanyaan retorik alias pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Hanya perlu persetujuan.

“Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri” (Amsal 27:2). Amsal ini adalah peringatan bagi orang yang gemar mengoleksi pujian. Bukan pujian yang diberikan oleh orang lain, melainkan pujian yang diberikan oleh diri sendiri. Memuji diri sendiri bukanlah hal yang baik untuk kesehatan jiwa kita. Memuji diri sendiri tidak menghasilkan apa pun selain kesombongan.

Menerima pujian dari orang lain tentu adalah ganjaran atas penampilan atau kinerja yang baik. Pujian menolong kita untuk mengerti apa yang orang hargai di dalam diri kita. Apa yang orang lain apreasiasi adalah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Kita dapat lebih mengembangkan diri lewat pujian tulus dari orang lain.

Mari kita bekerja keras dalam diam, biarlah pada saatnya pujian orang lain menggemakan kesuksesan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *