Khotbah Perjanjian Baru

Menjadi Agen Perubahan

Namun, jika  pola dosa itu dianggap menetap, tentu tidak benar. Betapapun jahatnya kehidupan seseorang dan berasal dari keluarga yang rusak seperti apapun, di dalam Tuhan bisa berubah. Ibu A berubah setelah melalui proses konseling dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan, mau mengakui lukanya terhadap ibunya dan melepaskan pengampunan.

Paulus sejak kecil diasuh dengan pola agama Yahudi yang sangat ketat, dengan ajaran fundamentalisme yang legalistik dimana kehidupan beragama dihayati sebagai serangkaian peraturan dan upacara, setelah dewasa dia menjadi teroris. Atas nama agama ia menganiaya dan membunuh orang Kristen dengan keyakinan bahwa dia sedang berbuat bakti kepada Allah. Mengerikan sekali! Jadi, radikalisme, intoleran dan terorisme itu bukan barang baru!

Namun, seperti ibu A, Paulus mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus. Bedanya, ibu A sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya dan mencari pertolongan melalui proses konseling, walaupun dia bisa sadar tentunya karena Allah telah menyatakan diri kepadanya, tetapi Paulus, tanpa rencana, tanpa didahului dengan kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, bahkan dia sedang merasa sangat okey, berbuat bakti bagi Allah, langsung ditemui oleh Tuhan Yesus, buta selama 3 hari. Dengan bimbingan Ananias yang diutus Tuhan kepadanya, Paulus sadar bahwa sebenarnya dia tidak sedang berbuat bakti kepada Allah melainkan justru melawan Allah. Dia mengakui dosanya, bertobat dan diubahkan seratus delapan puluh derajat. Setelah diubahkan, baik ibu A maupun Paulus dipakai Tuhan menjadi agen perubahan bagi orang lain.

Kita semua juga bisa berubah dan menjadi agen perubahan bagi orang lain

Bagaimana caranya?

Pertama, jangan pernah menghakimi dan berkata: “Tidak ada harapan!”, atau “watuk iso diobati tapi watak ga iso!”, atau “bibit, bobot, bebet itu harga mati!” Bagaimanapun jahatnya seseorang, tetaplah percaya bahwa dia bisa berubah bahkan seratus delapan puluh derajat, jika dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

Ananias pada awalnya beralasan, ketika diutus Tuhan menemui Saulus. Mungkin dalam hati tanpa sadar dia juga menghakimi Saulus sebagai orang jahat yang tidak mungkin diubahkan. Maka Ananias menjawab: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.” Dengan kata lain dia berkata: “Ga salah tah Tuhan ngutus aku kepada Saulus? Dia kan teroris yang sudah menganiaya dan membunuh orang Kristen? Dia datang ke sini juga dalam rangka menganiaya dan membunuh orang Kristen. Lagi pula dia membawa surat kuasa dari imam-imam kepala. Ngapain Tuhan utus aku ke sana? Dia buta kan lebih baik, jadi tidak bisa menganiaya dan membunuh lagi. Kalau dia disembuhkan, nanti akan melakukan hal yang sama lagi, bahkan mungkin lebih buruk.” Kalau saya jadi Ananias mungkin juga saya akan berkata begitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *