Khotbah Perjanjian Baru

Menjadi Agen Perubahan

Ada seorang istri yang selama bertahun-tahun menderita karena suaminya bukan hanya tidak bekerja, melainkan juga mimun-minuman keras, berjudi, berzinah dan melakukan KDRT. Segala usaha untuk menyadarkannya telah dilakukan tetapi sia-sia. Tahun demi tahun bahkan bertambah jahat. Uang istrinya yang dikumpulkan dengan susah payah dengan berjualan makanan sering dirampas habis. Akhirnya sang istri berdoa: “Tuhan, buatlah suami saya mengalami sesuatu yang buruk supaya dia bertobat.” Doa ini kejam? Tergantung! Kalau kita mendoakannya dengan hati yang panas dan mengharapkan kehancurannya itu kejam. Tuhan tidak akan menjawab doa yang demikian atau bahkan doa kita akan menimpa kita sendiri. Tetapi jika kita mendoakannya dengan gentar dan dengan hati yang hancur dan penuh belas kasihan, dan sadar akan resikonya serta siap untuk menanggungnya, doa ini menjadi doa yang sangat efektif. Tuhan mengabulkan doa sang istri, beberapa hari kemudian suaminya kecelakaan, masuk jurang dan lumpuh. Sang istri membawanya pulang dan merawatnya dengan penuh kasih dan kesabaran, sambil terus mendoakan dan memberitakan Injil kepadanya. Sang suami tetap lumpuh sampai akhir hidupnya, tetapi dia bertobat, menerima Kristus  dan diselamatkan.

Kebanyakan orang tidak berani berdoa demikian karena kita sendiri tidak beres, kita tidak mau menanggung resikonya, kita ingin orang itu bertobat tetapi kita tidak mau beranjak dari zona nyaman kita, atau kita bahkan tidak ingin orang itu bertobat, inginnya mereka binasa seperti hal Yunus terhadap orang Niniwe. Istri yang biasa dipukuli, keadaan dipukuli itu, walaupun sakit, sudah menjadi zona nyaman bagi dia. Untuk keluar dari zona nyaman, perlu iman dan keberanian. Namun hanya orang yang berani melakukannya yang akan mengalami kuasa dan kemuliaan Allah.

Ananias mula-mula takut berjumpa dengan Paulus, tetapi dia mengerti bahwa itulah waktu Tuhan bekerja, maka dengan berani dia mengambil resiko, keluar dari zona nyaman untuk bekerja ditempat Tuhan bekerja. Maka, seperti istri yang saya ceritakan tadi, dia boleh menjadi agen perubahan bagi Paulus.

Konklusi

Disekitar kita banyak orang seperti Saulus. Mereka berbuat jahat tetapi merasa benar bahkan merasa sedang berbuat bakti kepada Tuhan. Apa yang mereka lakukan mungkin menyulitkan hidup saudara dan membuat saudara menderita. Namun, semua itu terjadi tidak secara kebetulan. Tuhan yang berotoritas menghadapkan kita pada situasi itu karena Dia mau memakai kita.

Maukah saudara menyerahkan diri kepada Tuhan dan taat kepada-Nya dengan penuh percaya bahwa sejahat apapun seseorang Tuhan berkuasa mengubahnya? Maukah saudara menyisihkan waktu setiap hari untuk berdoa bagi mereka dan pada saat-Nya berani mengambil resiko untuk keluar dari zona nyaman saudara untuk bekerja dimana Tuhan bekerja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *