Renungan Berjalan bersama Tuhan

Menjadi Orang Kecil

Menjadi Orang Kecil

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan.” (Amsal 12:9)

Kita sering mendengar seseorang mengatakan, “Nggaklah … saya ini orang biasa saja, orang kecil, nggak mampu dan nggak bisa apa-apa…..” Kalimat itu terlontar, biasanya saat seseorang mendapat pujian atau karena dicalonkan sebagai pengurus komisi atau penatua dalam sebuah pelayanan. Kalau sedang dipuji karena keberhasilannya dalam bekerja atau studi, ia sebenarnya ingin merendahkan hati atau tidak sombong. Namun, kalau terkait dengan pelayanan, itu berarti ia menolak pelayanan yang disodorkan. Pernyataan “aku orang kecil” hanya sebuah alasan bahwa dirinya tidak bersedia melayani Tuhan. Memang orang kecil berbeda dengan orang besar dan orang miskin jauh berbeda dengan orang kaya. Yang kecil selalu mempunyai konotasi rendah, tidak bisa berbuat apa-apa, dan sebagainya.

Apa yang dimaksud Amsal dengan sebutan orang kecil? Di sini Amsal mengaitkannya dengan pekerjaan, yakni orang kecil yang bekerja atau orang sederhana yang melakukan pekerjaannya dengan baik. Dalam terjemahan lain, dikatakan tentang menjadi seorang hamba. Pekerjaan seorang hamba adalah taat kepada tuannya, maka hamba itu akan mendapat berkat dan panjang umur, tetapi jika tidak taat akan dibuang tuannya. Hamba tidak boleh membantah, menuntut, atau protes ketika bekerja keras. Orang kecil bukan orang besar yang mempunyai pengaruh luas dan kaya secara material. Menurut Amsal, lebih baik menjadi orang kecil tetapi bekerja dengan baik dan jujur, daripada berlagak menjadi orang besar tetapi tidak bekerja. Orang yang berlagak menjadi orang besar adalah orang yang tidak mengenal dirinya dengan baik, sombong berlagak tahu semua padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa dan tidak ada yang dimiliki.

Pergumulan itulah yang disampaikan oleh Amsal. Lebih baik mempunyai sikap hati, karakter, bahkan watak yang menempatkan diri sebagai “orang kecil” dan bukan berlagak sebagai “orang besar”. Lebih baik menjadi seorang “hamba” yang taat kepada tuannya. Keberhasilan seorang hamba hanya mengerjakan semua tugas dan kewajiban dengan baik dan penuh tanggung jawab. Sikap dan perbuatannya selalu berusaha menyenangkan hati tuannya. Tentunya sikap menyenangkan hati tuannya tidak dibuat-buat, munafik, atau menjilat, tetapi muncul dari sikap hati yang tulus, jujur, dan setia. Pengakuan sebagai orang kecil juga pernah diungkapkan Daud. Waktu itu, Saul mengutus ajudannya memberitahu bahwa Daud akan diambil menjadi menantu Saul. Saat itu Daud mengatakan, “Perkara ringankah pada pemandanganmu menjadi menantu raja? Bukankah aku seorang yang miskin dan rendah?” (1 Samuel 18:23). Sikap merendah jauh lebih baik daripada meninggikan diri. “Berlagak sebagai orang besar” justru akan menjatuhkan diri sendiri. Keberhasilan seseorang selalu dimulai dari pemahaman sebenarnya siapakah aku ini? Mari kita belajar seperti Daud atau Yohanes Pembaptis yang mengatakan “membuka tali kasutnya pun aku tidak layak”. Tuhan memberkati orang yang merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama, serta bekerja dengan rajin dan penuh tanggung jawab. Mereka akan menjadi saluran berkat Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *