Khotbah Perjanjian Baru

Menjadi Pelayan Sejati Kristus

Menjadi Pelayan Sejati Kristus

1 Korintus 4:1‑5

oleh: Jenny Wongka †

Di kalangan orang Kristen sering muncul kecenderungan yang populer, yaitu menilai serta membandingkan pendeta di gereja mereka. Berbagai macam kriteria dipakai untuk menilai siapakah di antara pendeta mereka yang berhasil, siapakah yang paling berpengaruh, yang memiliki lebih banyak karunia, yang paling efektif, dan sebagainya.

1 Korintus 4:1‑5 terfokus pada sifat dan keadaan sejati, serta tanda‑tanda para pelayan Allah. Bagian ini memberikan bimbingan dan standar yang olehnya para pelayan boleh menilai dan mengevaluasi pelayanan mereka. Wacana ini pun berkenaan pula dengan bagaima­na seharusnya sikap majelis terhadap para pelayan, dan bagaimana pula sikap pelayan terhadap dirinya sendiri. Singkatnya, bagian ini melihat pelayan Allah dari prespektif dan standar Allah. Paulus memperjelas lagi bahwa popularitas, kepribadian, jabatan dan jumlah anggota jemaat yang dilayani oleh seorang pelayan tidak berperan penting menurut prespektif Tuhan, dan seharusnya semuanya itu tidak berperan dalam prespektif kita pula.

Butir utama dan berita dalam perikop ini adalah bahwa para pelayan Allah tidak seharusnya dinilai dalam tingkatan oleh orang lain, juga tidak oleh diri mereka sendiri. Semua orang yang berlaku benar seturut dengan Kitab Suci dalam pemberitaan injil dan berlaku benar pula dalam kehidupan mereka seharusnya diperlakukan dengan sama rata.

Untuk membantu kita mengerti tujuan Allah bagi para pelayan-Nya, Paulus memberikan Tiga karakteristik dari pelayan sejati Kristus. Karakteristik tersebut mencakup identitas, tuntutan, dan evaluasi para pelayan itu.

 

Identitas Pelayan Kristus (1 Korintus 4:1)

Kata “kami” harus dihubungkan kembali dengan 1 Korintus 3:22, yang memberikan indikasi­ pada diri Paulus, Apolos, Kefas, dan bila diperluas lagi mencakup semua orang lain, yaitu “rekan kerja” mereka (bandingkan dengan 1 Korintus 4:9). Kata “orang” atau dalam versi bahasa Inggrisnya “a man” tidak spesifik menunjukkan orang tertentu, sehingga boleh diterapkan pada semua orang Kristen. Jadi ayat ini dapat diperluas menjadi: “Demikianlah hendaknya orang‑orang Kristen memandang kami”. Namun dalam pengertian luas, konteks dapat juga merujuk pada orang-orang yang tidak percaya pada Kristus, bukan hanya pada bagaimana dunia ini memandang para pelayan Allah, tetapi juga bagaima­na seharusnya gereja mencerminkan diri sebagai pelayan Allah di hadapan dunia ini. Seorang non‑Kristen tidak mampu memahami perkara‑perkara Allah, sebab secara rohani mereka adalah bodoh, tidak ada Roh Allah di dalam diri mereka (bandingkan dengan 2:14). Dengan kata lain, tidak sepantasnya kita membiarkan penilaian gerejawi dilakukan berdasarkan standar duniawi baik dari orang non‑Kristen maupun di antara orang percaya sekalipun. Paulus menandaskan bahwa kita tidak berhak untuk memakai kriteria duniawi seperti popularitas, kepribadi­an, jabatan, dan jumlah anggota jemaat untuk membuat pemberitaan Injil semakin jelas. Hal yang harus dipercayai oleh para pelayan Allah adalah bahwa mereka adalah orang‑orang yang ditetap­kan Allah untuk menjadi hamba‑hamba Kristus dan sebagai pelayan‑pelayan dari segala rahasia Allah. Berikut adalah beberapa istilah yang dipakai Rasul Paulus untuk menunjukkan identitas pelayan Allah.

Hamba-hamba Kristus (1 Korintus 4:1a)

Kata “hamba‑hamba” (huperetes) secara harfiah berarti: under powers atau orang yang berada di bawah perintah, yang pada mulanya mengindikasikan tingkatan para budak yang paling rendah, atau satu tingkatan yang paling bawah dalam hierarki komunitas sebuah kapal. Mereka adalah orang‑orang yang terhina di antara para budak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *