Khotbah Perjanjian Baru

Menjadi Penjala Manusia

Menjadi Penjala Manusia (Matius 4:18-22)

oleh: Jenny Wongka †

 

Pekabaran Injil adalah perhatian besar Allah bagi keselamatan umat manusia. Pekabaran Injil disebut sebagai kebijaksanaan Allah yang tinggi. Perhatian akan jiwa yang tersesat telah mengakibatkan Yesus meratapi Yerusalem yang tidak percaya: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Matius 23:37).

Allah Bapa mengutus Anak-Nya ke bumi ini, untuk memberitakan kabar keselamatan, mati, dan bangkit, hanya dengan satu tujuan, yaitu menyelamatkan manusia dari dosa. Yohanes 3:16 mengungkapkan kasih Allah Bapa yang dinyatakan melalui Anak-Nya, Lukas 19:10 menyatakan bahwa Kristus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang sesat. Roh Kudus mengaruniakan kelahiran kembali yang dinyatakan melalui baptisan serta pembaharuan hidup kepada mereka yang percaya. Jadi Allah Tritunggal berkarya bersama di dalam pelayanan untuk keselamatan umat manusia dari dosa. Pekabaran Injil adalah perhatian besar dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.

Pekabaran Injil diteruskan Allah kepada orang-orang percaya, bahkan menjadi perhatian besar jemaat pada masa Perjanjian Baru. Segera setelah peristiwa Pentakosta, orang-orang percaya baru mengabdikan diri mereka kepada Allah dan memenangkan banyak jiwa bagi Dia. Mereka mempersembahkan segala milik mereka dan membawanya di hadapan para rasul. Mereka pun saling berbagi dalam berkat materi dan rohani. Mereka disukai banyak orang dan Allah menambahkan jumlah orang yang bertobat di dalam jemaat. Dan walaupun setelah itu terjadi penganiayaan besar-besaran atas orang percaya, tetapi berita keselamatan justru semakin tersebar luas.

Dalam beberapa hal, kehidupan Pekabaran Injil memerlukan pengorbanan besar. Sejarah Pekabaran Injil sudah membuktikan hal ini, bahwa tidak sedikit penjala manusia yang diutus untuk memenangkan jiwa manusia bagi Tuhan, yang kemudian membayar harga yang termahal, yaitu dengan kehilangan nyawa mereka demi Tuhan. Mengkotbahkan injil keselamatan adalah hal yang penting, demikian pula dengan kesaksian pribadi.

Bentuk-bentuk kata Pekabaran Injil dipakai lebih dari 50 kali di dalam Perjanjian Baru. Pekabaran Injil adalah tujuan utama dari Amanat Agung (Matius 28:19). Memuridkan adalah menginjili, mengantarkan orang-orang kepada Yesus. Pada abad pertama Yesus memanggil para murid untuk datang kepada-Nya dan mengikut Dia. Dia juga memanggil mereka untuk membawa orang lain mengikut Dia.

Dengan membandingkan catatan Injil kita dapat menemukan bahwa paling sedikit ada 5 tahapan yang berbeda dalam panggilan Yesus kepada kedua belas murid-Nya. Setiap penulis Injil menekankan tahapan yang sesuai dengan tujuan khususnya. Misalnya Yohanes: panggilan pertama adalah kepada keselamatan, beriman kepada Mesias (Yohanes 1:35-51; 2:11). Panggilan Matius yang disinggung dalam perikop kita di sini adalah panggilan kedua, yaitu suatu panggilan untuk bersaksi. Setelah panggilan pertama dan panggilan kedua, ternyata para murid belum secara tuntas meninggalkan profesi lama mereka secara permanen. Pada panggilan ketiga (Lukas 5:1-11), Petrus, Yakobus, dan Yohanes sekali lagi kembali untuk menangkap ikan. Yesus mengulangi panggilan atas mereka untuk menjadi penjala manusia, dan kemudian para murid menyadari panggilan itu adalah panggilan yang sifatnya permanen dan “mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia” (ayat 11).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *