Renungan

Menjauhi Perbantahan

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.

Amsal 20:3

Suatu kali saya mengantar rekan yang sudah menghabiskan puluhan tahun masa hidupnya untuk melayani Tuhan. Arus lalu lintas menjadi macet karena ada kecelakaan. Di tengah kemacetan itu para penunggang sepeda motor bermanuver di sela-sela mobil yang tengah berhenti. Tiba-tiba terdengar suara bruk, dan kami menoleh ke sebelah kiri. Ternyata ada pengendara motor yang menabrak spion mobil saya. Pengendara itu berhenti, mengetuk kaca mobil. Saya membukanya, dan tiba-tiba saja ia mengeluarkan kata makian khas Jjawa Timur. Saya tentu saja terkejut dan hendak memarahinya balik. Namun, rekan pelayanan saya yang sudah senior itu tersenyum ke arah saya dan kemudian menengok ke arah pengendara mobil itu sambil bertanya, “Ada yang terluka, Mas?” Pengendara motor itu tampak kaget dengan pertanyaan itu. Sejenak ia terdiam lalu menjawab, “Tidak, Pak. Maaf, sudah menabrak spion Bapak. Saya buru-buru ke kantor,” jawabnya.

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak” (Amsal 20:3).

Amsal ini mengajarkan kepada kita bahwa salah satu ciri orang yang terhormat bukanlah kemampuannya mengalahkan orang lain dalam perbantahan. Sebaliknya, orang terhormat tahu bagaimana harus menghindari atau menjauhi perbantahan. Bukan hal yang mudah untuk menghindari atau menjauhi perbantahan sebab hal ini menuntut pengendalian diri.

Di sisi lain, Amsal ini juga mengajarkan bahwa orang yang dengan mudah membiarkan amarahnya meledak adalah orang bodoh. Bodoh bukan dalam arti tidak berpendidikan tinggi, tetapi bodoh dalam arti ia gagal mengendalikan diri.

Jauhilah perbantahan yang tidak perlu. Kendalikan emosi agar kualitas hidup Anda tidak mengalami erosi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *