Renungan

Menyalahkan Tuhan

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Manusia merugikan diri sendiri oleh kebodohannya, kemudian menyalahkan TUHAN atas hal itu.

Amsal 19:3—BIS

“Saya tidak tahu, Pak, mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Saya marah kepada Tuhan karena Dia tidak menjagai saya sampai terjadi kecelakaan ini,” tutur seorang anak remaja dalam suatu kesempatan. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu mengalami kecelakaan apa?” selidik saya.

“Tiga hari yang lalu saya dan teman berboncengan sepeda motor dalam perjalanan menuju kampus. Saya terlambat bangun dan kemudian buru-buru menjemput teman saya. Saya memacu motor ke kampus dan mendengar bunyi tanda palang kereta api akan turun. Saya putar gas sepeda motor saya. Saya berhasil melewati rel itu sebelum palang kereta api turun. Tapi eh malah nabrak becak yang berhenti mendadak di depan saya. Saya mengalami patah tulang kaki. Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi?”

“Manusia merugikan diri sendiri oleh kebodohannya, kemudian menyalahkan TUHAN atas hal itu” (Amsal 19:3—BIS). Amsal ini mengungkapkan perilaku manusia yang tidak mau mengintrospeksi diri dan hanya mau menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi. Seolah-olah masalah selesai ketika ada orang lain yang dipersalahkan atas apa yang terjadi.

Tindakan menyalahkan pihak lain adalah bentuk keengganan untuk bertanggung jawab. Padahal salah satu yang membuat diri kita bertumbuh makin dewasa dalam kehidupan ini adalah kesediaan dan kemauan untuk bertanggung jawab. Tanpa sikap bertanggung jawab, tidak akan ada pertumbuhan.

Berhenti menyalahkan pihak lain dan mulai belajar bertanggung jawab adalah jalan menuju kedewasaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *