Renungan Berjalan bersama Tuhan

Menyimpang

Menyimpang

Hosea 1:1-9

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Segala sesuatu yang tidak harmonis berawal dari penyimpangan. Kesepakatan untuk taat dan setia pada perjanjian yang dahulu dijalani dengan baik, kini menjadi sirna, luntur, dan sengaja dilanggar. Berkali-kali pihak yang tidak taat diingatkan, tetapi mereka tetap acuh tak acuh, tidak mau mendengarkan. Hari demi hari, hidup dijalani dengan sikap melawan. Cepat atau lambat akan muncul konflik besar. Jadi akhirnya, satu-satunya jalan untuk mengembalikan pihak yang menyimpang itu pada kesepaktan semula adalah dengan memberinya hukuman. Hal itu akan mengingatkannya kembali pada komitmen yang disepakati bersama dahulu dan terlebih hal itu akan mengembalikan kasih mula-mula yang membuat kesepakatan tersebut terjadi. Demikian pula dengan hubungan antara Allah dan umat-Nya yang diikat dalam perjanjian, hukum, dan aturan. Jika terjadi pelanggaran, maka Allah menyatakan hukuman-Nya dengan tujuan agar umat-Nya yang memberontak itu kembali pada perjanjian awal.

Dalam peristiwa itu, Allah menjadi pihak yang “dikhianati” bahkan dilawan sampai akhirnya Tuhan memberikan peringatan kepada umat-Nya Israel dan berkata bahwa Dia tidak akan menyayangi lagi kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka (Hosea 1:6). Setelah beberapa tahun, hal ini terulang kembali. Tuhan berfirman, “Kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu” (Hosea 1:9). Peringatan ini mengagetkan sekali; Tuhan sudah tidak mau mengingat umat-Nya lagi.

Bagi Allah, penyimpangan merupakan hal yang sangat serius! Apakah penyimpangan yang telah dilakukan oleh Israel? Mereka menolak Allah dan menyembah berhala! Patung-patung disembah dan dipercayai sebagai allah. Oleh karena itu, Allah memutuskan hubungan supaya Israel belajar dari pengalaman bahwa seseorang yang telah menyimpang dari jalan yang benar atau dari komitmen yang sudah disepakati bersama akan mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Peringatan Allah itu menjadi pelajaran agar mereka yang tidak taat kembali ke jalan yang benar. “Perpisahan” sementara menjadi jalan agar manusia bisa kembali pada kehidupan bersama Allah lagi. Allah tidak dapat mengingkari diri-Nya dan mengabaikan mereka yang datang untuk bertobat karena Dia adalah Allah yang tetap setia untuk selama-lamanya. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, aku bersyukur karena dalam menjalani kehidupan sebagai anak-anak-Mu, Engkau mengikat dengan aturan-aturan dan hukum-hukum Tuhan. Di situlah penataan hidup yang sesungguhnya sudah Engkau atur. Tuhan, ajarlah aku untuk taat pada kebenaran firman Tuhan. Ketika aku menyimpang dari kebenaran-Mu, ingatkan aku supaya kembali lagi kepada-Mu, dan tuntunlah aku menuju kebenaran, kebaikan, keadilan, kekudusan, dan kasih kepada Allah dan sesama.
  2. Tuhan, pimpinlah kami sebagai umat Tuhan supaya terus berjalan dalam kebenaran firman Tuhan. Tolonglah agar pembelajaran firman Tuhan terus diberikan dengan benar mulai dari usia kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa, dan lanjut usia; melalui katekisasi, Pemahaman Alkitab, Persekutuan Doa, kelompok kecil, dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *