Renungan

Menyuap Tuhan

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya.

(Amsal 15:8)

Suatu kali saya mengajak orang yang berminat untuk mempelajari iman Kristen menghadiri sebuah Persekutuan Doa. Orang ini berasal dari latar belakang yang sangat buruk. Keluar masuk penjara sudah sangat biasa baginya. Saya meninggalkannya di bangku belakang ketika saya menyampaikan firman Tuhan. Seusai Persekutuan Doa, saya bertanya kepadanya, “Apakah ada orang-orang yang kamu kenal?” Pria itu tersenyum lalu berkata, “Saya mengenali ada setidaknya dua orang yang pernah memberikan perintah kepada saya untuk menganiaya orang lain. Orang-orang itu mengenakan baju berwarna ini dan itu. Saya yakin itu pasti orangnya. Saya heran bagaimana mungkin mereka sanggup menganiaya orang lain melalui saya dan beribadah dengan sedemikian khusyuk di hadapan Tuhan. Apakah mereka tidak punya rasa bersalah?”

“Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya” (Amsal 15:8).

Amsal ini adalah penegasan bahwa TUHAN melihat bukan hanya apa yang terjadi di altar, tetapi juga yang terjadi di pasar alias di kehidupan sehari-hari. Ketika orang jahat datang dengan membawa korban persembahan, tak peduli betapapun banyak dan indahnya korban persembahan itu, Tuhan membencinya. Sebaliknya, orang jujur yang bahkan tidak berbekal korban persembahan, hanya datang dengan doa, Tuhan berkenan. Jadi, jangan mencoba “menyuap” Tuhan dengan korban persembahan. Hidup dalam kejujuran jauh bernilai di hadapan Tuhan.

Sebelum datang menyembah Tuhan, periksalah kehidupan Anda dengan kecermatan. Barangkali ada kejahatan yang perlu ditanggalkan sebelum doa dan persembahan dinaikkan agar Tuhan berkenan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *