Renungan Berjalan bersama Tuhan

Metroseksual

Metroseksual

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Amsal 15:1-33

Kata metroseksual sudah lama kita dengar, khususnya di majalah-majalah dan surat kabar. Pada umumnya, kata ini banyak disalahpahami sebagai istilah yang ditujukan bagi kaum homoseksual atau kaum gay. Jelas kata itu tidak memiliki arti seperti itu. Hermawan Kartajaya memberikan penjelasan bahwa ada tiga kelompok pria, yaitu:

Pertama, Conservative Man, pria konservatif, yang berperan sebagai pencari nafkah utama. Mereka meyakini adanya perbedaan gender.

Kedua, Oriented Man, pria yang sudah menghargai emansipasi wanita, tetapi masih peduli pada pendapat orang lain.

Ketiga, Metroseksual, pria normal yang semakin emosional, dan semakin mampu mengekspresikan emosi dan perasaannya. Mereka lebih senang mengobrol dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik daripada rata-rata pria. Selain itu, kaum metroseksual sangat mengikuti mode dan memperhatikan penampilan diri mereka. Metroseksual bukan pria banci, kemayu, atau gay (Hermawan Kartajaya, Metroseksual Pria Masa Depan. JP, Senin 10 Mei 2004, hlm. 1,14).

Itulah situasi yang ada di sekitar kita saat ini, khususnya yang tinggal di kota-kota besar. Banyak pria yang mulai berdandan, membenahi diri mereka dengan pakaian yang necis, rambut yang ditata rapi, dan tidak ketinggalan pula parfum yang harum. Bukan saja cincin yang mereka kenakan, melainkan juga kalung, anting-anting, plus rambut yang disemir. Ada waktu-waktu tertentu dan rutin ketika mereka pergi ke salon untuk perawatan, baik rambut, kulit wajah, dan sebagainya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh kelompok Hawa juga menjadi bagian dalam kehidupan kelompok Adam. Salon-salon bukan saja dikunjungi para wanita, tetapi juga pria. Bahkan obat-obatan untuk merawat muka supaya tidak berjerawat, kulit keriput, menghilangkan noda atau bintik-bintik kulit di wajah yang rusak, cream bath, cuci muka, dan sebagainya, semua itu juga menjadi konsumsi kaum pria.

Bagaimana sikap kita? Tentunya tidak menjadi masalah jika orang ingin merawat diri dengan sebaik-baiknya, bukan? Kaum pria juga tidak patut terus-menerus bekerja sehingga lalai merawat dirinya karena perawatan diri merupakan bagian dari tindakan mengasihi diri dengan baik, termasuk cukup istirahat atau tidur. Namun kalau hal itu dilakukan dengan motivasi dan tujuan yang tidak benar, jelas itu salah besar! Kalau pola kehidupan metroseksual menjurus pada kehidupan fasik, yaitu kehidupan yang semakin jauh dari Tuhan, atau rela meninggalkan Tuhan hanya untuk berfoya-foya, memuaskan nafsu, mematut diri agar kelihatan menarik, dan akhirnya jatuh pada kesombongan diri, maka jelas hal itu tidak tepat dilakukan. Amsal menasihati kita semua, “Jalan orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi siapa mengejar kebenaran, dikasihi-Nya” (Amsal 15:9). Jalan orang fasik adalah pola hidup yang mementingkan diri sendiri. Ia merawat dirinya semaksimal mungkin supaya mengesankan berhati baik, rapi, anggun, menarik, dan dapat dipercaya sehingga banyak orang tertipu oleh bualannya yang omong kosong. Perawatan dirinya hanya dilakukan untuk bersandiwara dengan penuh kepalsuan. Bila kaum metroseksual melakukan pola hidup seperti itu, jelas mereka telah bertindak tidak benar, dan kefasikan merupakan kekejian di hadapan Tuhan. Marilah kita tetap berpegang pada pola hidup yang terus-menerus mengejar kebenaran. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *