Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Pra Paska & Paska

Mewujudnyatakan Kemenangan Kristus

Mewujudnyatakan Kemenangan Kristus

1 Korintus 15:57-58

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Suatu kali dua orang pria bercakap-cakap di sela-sela waktu makan siang.

Pria pertama berkata, “Semalam aku bertengkar dengan istriku.”Suatu kali dua orang pria bercakap-cakap di sela-sela waktu makan siang.

“Apa? Memangnya kamu berani, istrimu itu ‘kan galaknya minta ampun,” sahut pria kedua.

“Iya sih, tapi malam itu aku membuat istriku tak berkutik. Bahkan dia sampai berlutut di depanku sambil memanggil-manggil namaku,” ujarnya setengah menyombongkan diri.

“Lalu, apa yang kaulakukan?”

“Ya aku diam saja, sebagai laki-laki aku ‘kan punya harga diri.”

“Lalu, apa tindakan istrimu?”

“Sambil memegang sapu lidi, ia berteriak kepadaku, ‘Ayo kalau berani keluar dari kolong tempat tidur dan hadapi aku!”

Manusia Tak Menyukai Kekalahan

Siapa sih yang senang mengalami kekalahan? Kalah bersaing dalam pekerjaan alias karier tidak naik-naik. Kalah bersaing dalam mendapatkan pasangan hidup alias stay single walau sangat berharap double. Kalah dalam perjuangan melawan penyakit alias tetap harus menanggung penyakit tertentu yang tak tersembuhkan. Kalah dengan kerasnya dan kejamnya kehidupan ini alias mengalami kelelahan dan keputusasaan.

Kita tidak suka dengan kekalahan. Kita bahkan tidak suka mendengarkan kata ini, khususnya ketika ditujukan kepada kita. Walaupun mengalaminya, kita akan menghibur diri dengan berkata, “Yah, mungkin ada maksud Tuhan di balik karier yang tidak berkembang atau pasangan hidup yang tak kunjung datang.” Penghiburan yang menolong kita untuk tetap bertahan, tetapi toh tak dapat kita pungkiri bahwa kekalahan itu melelahkan dan mematahkan kepercayaan diri, dan bahwa kita ingin mengalami kemenangan.

Kristus Menang. Apa Hubungannya dengan Kita?

Kitab 1 Korintus 15:57-58 berbicara tentang sebuah deklarasi kemenangan. “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Paulus mendeklarasikan kemenangan atas ketakutan manusia yang terbesar, yakni maut atau kematian. Maut atau kematian adalah akibat dari dosa manusia. Itulah sebabnya Paulus menyebut bahwa sengat maut ialah dosa. Di bagian lain, Paulus pernah menulis, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Kini kematian yang merupakan akibat dosa telah dikalahkan oleh kuasa Yesus Kristus melalui kebangkitan-Nya. Kuasa-Nya itu juga melepaskan manusia dari tuntutan hukum Taurat yang tidak mungkin dipenuhi oleh kekuatan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *