Khotbah Perjanjian Lama

Mezbah vs Panggung

Oleh: Pdt. Ruth Nuswantari 

Yesaya 1:10-20

“Mezbah” dan “panggung”, dua hal yang berlawanan, tetapi keberadaannya dalam hidup kita seringkali sulit dibedakan, karena kedua hal tersebut berada di ranah batin yang tidak kasad mata, bahkan yang empunya batin pun sering kali tidak bisa membedakannya.

Dunia pernah dihebohkan oleh terkuaknya scandal seorang pengkhotbah besar, Jimmy Swaggart. Dia tertangkap basah sedang bersama seorang pelacur. Padahal, pada saat itu  dia  adalah pendeta dari 6000 jemaat di Baton Rouge, Louisiana, seorang pemain musik yang luar biasa, memiliki sebuah markas seluas 270 acre, sebuah Sekolah Alkitab, sebuah pelayanan televisi dengan pengaruh yang besar dan yang menjangkau banyak daerah di seluruh dunia, ditayangkan di 9700 stasiun dan jaringan, dan pemasukan untuk pelayanannya mencapai $142 juta setahun.

Setelah dosanya terkuak, gereja menjatuhkan status penggembalaan khusus kepadanya. Dia dilarang berkhotbah selama satu tahun untuk memberi kesempatan kepadanya untuk benar-benar bertobat dan dipulihkan. Sangat disayangkan, bukannya bertobat dan menerima konsekuensi dosanya, dia malah menolak penggembalaan khusus tersebut dan dengan arogan terus berkhotbah sambil membohongi dirinya sendiri dan orang lain bahwa Tuhan menyuruhnya terus berkhotbah. Akibatnya, hidupnya benar-benar hancur. Tragis? Sangat tragis!

Setiap orang, jika tidak waspada dengan motif hatinya sendiri, bisa hancur seperti Jimmy Swaggart. 1 Korintus 10:12 berkata: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Karena itu, agar kita terhindar dari kehancuran yang tidak perlu, mari kita berkaca kepada firman Tuhan agar motif hati kita yang sesungguhnya menjadi nyata dan jika ada yang salah, kita bisa bertobat sebelum terlambat.

Apa bedanya panggung dengan mezbah?

Perbedaan panggung dan mezbah tidak terdapat pada apa yang nampak dari luar. 

Bagian Alkitab yang kita baca tadi, awal mulanya ditujukan kepada bangsa Israel. Secara lahiriah, mereka nampak luar biasa saleh. Mereka membawa persembahan ke mezbah Allah, bukan ke mezbah dewa-dewa asing. Jumlahnya juga tidak sedikit, sesuai dengan peraturan hukum taurat, bahkan mungkin lebih. Mereka mempersembahkan korban bukan hanya yang menjanjikan berkat bagi diri sendiri, melainkan juga yang tidak menjanjikan hal tsb. Hewan korban yang mereka persembahkan juga tidak sembarangan, melainkan yang tidak bercacat, sesuai dengan peraturan hukum Taurat. Mereka juga tidak menyuruh orang lain untuk melakukannya, melainkan mereka sendiri membawanya ke bait Allah. Mereka bukan hanya hadir pada setiap perayaan yang ditentukan oleh taurat, melainkan juga melakukan ibadah harian dengan cermat: berdoa tiga kali sehari, berpuasa tiga kali seminggu dan memberi persembahan persepuluhan. Dengan kata lain, secara lahiriah mereka nampak sangat saleh. Siapa yang menyangka jika semua itu panggung, bukan mezbah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *