Renungan

Miskomunikasi

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.

Amsal 18:13

Ah, ini hanya soal miskomunikasi,” demikian kesimpulan pemimpin rapat. Sepanjang malam rapat itu membahas mengapa ada dua pihak yang berkonflik hebat. Konflik yang hebat itu ternyata berawal dari miskomunikasi alias kegagalan berkomunikasi. 

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan orang mengalami miskomunikasi. Salah satunya adalah kegagalan untuk mendengarkan. Mengapa gagal untuk mendengarkan? Karena tidak mampu mengendalikan mulut. Mendengarkan ternyata bukan hal yang sederhana karena kita tidak akan mampu mendengarkan dengan baik apabila mulut kita terus berbicara. 

Kita juga tidak akan mampu mendengarkan dengan baik bila saat orang lain berbicara, pikiran kita malah sibuk memikirkan bagaimana membantah pendapat orang lain. Untuk mendengarkan dengan baik ternyata dibutuhkan mulut yang terkatup dan pikiran yang berfokus pada perkataan orang  lain.

“Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya” (Amsal 18:13). Nasihat Amsal ini menegaskan prinsip komunikasi yang sederhana dan penting namun kerap diabaikan: kita tidak dapat mendengarkan dengan baik jika kita tergesa-gesa ingin berbicara. Ketergesaan untuk berbicara menunjukkan ketidakmampuan mengendalikan pikiran.

Jadi, tampaknya Tuhan memberikan kita satu mulut dan dua telinga dengan maksud yang jelas. Banyaklah mendengarkan sebelum berbicara. Berbicaralah hanya jika kita telah menjadi pendengar yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *