Khotbah Perjanjian Baru

Mulia di Mata Allah

Mulia di Mata Allah

oleh: Jenny Wongka †

“Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipadang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”

2 Timotius 2:21

Surat 2 Timotius ditulis Rasul Paulus kepada anak rohani sekaligus rekan kerjanya, yakni Timotius, yang menjadi penilik atau penatua jemaat di Efesus. Meskipun demikian, nasihat Paulus dalam 2 Timotius 2:20-26 dapat dengan jelas dan secara langsung ditujukan kepada semua pemimpin dalam jemaat. Dalam konteks ini dipakai untuk menunjukkan karakteristik seorang penilik (overseers) jemaat. Bagi saya, penilik jemaat bisa diparalelkan dengan pekerja gereja, pengurus persekutuan atau komisi dalam jemaat. 

Sesungguhnya tiap anak Tuhan terpanggil untuk melayani dengan tugas yang berbeda-beda, sesuai teks ayat ini, yaitu sebagai perabot rumah di dalam tangan Tuhan. Saya mengajak kita belajar bersama karakteristik seorang pekerja yang dipakai Tuhan sebagai perabot rumah yang mulia. Mari kita simak bersama ulasan berikut:

 

  1. Hidup yang Bersih (2:21a)

Dalam bahasa Yunaninya, “menyucikan” berarti “to clean out thoroughly, to clean completely” atau membersihkan dengan secara menyeluruh dan komplet. “Hal-hal yang jahat” mengacu pada perabot-perabot yang tidak mulia, yang disinggung dalam ayat sebelumnya. Dari hal-hal yang jahat tersebut, seseorang yang setia menyucikan dirinya sendiri. Perlu kita camkan, perabot-perabot yang tidak mulia bisa mencemarkan orang-orang dalam jemaat. Pernyataan Paulus di sini tidak lain agar orang-orang percaya yang saleh harus memisahkan diri dari tipe orang percaya yang tidak murni, yang tidak bersih, tidak taat, tidak patuh kepada Tuhan, dan yang tidak giat melayani Tuhan.

Dosa adalah sesuatu yang mudah menjalar atau menular, dan bersamaan dengan perbuatan dosa yang terang-terangan dan orang-orang yang tidak merasa malu untuk berbuat berdosa, hal ini merupakan bahaya secara moralitas dan spiritualitas. “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20). Peringatan Tuhan kepada orang Yahudi di negeri pembuangan Babel juga bisa diterapkan kepada tiap orang percaya yang menuntut kesetiaan dalam melayani Dia. Seperti yang diberitakan oleh Nabi Yesaya, “Menjauhlah, menjauhlah! Keluarlah dari sana! Janganlah engkau kena kepada yang najis! Keluarlah dari tengah-tengahnya, sucikanlah dirimu, hai orang-orang yang mengangkat perkakas rumah Tuhan” (Yesaya 52:11). Orang percaya yang korup dan amoral secara doktrinal, khususnya lagi bila itu adalah seorang pemimpin yang berpengaruh di tengah jemaat, akan jauh lebih berbahaya daripada seorang ateis. Sebab saudara-saudara yang lemah dan yang tidak waspada mungkin berasumsi atau merasionalisasi bahwa praktik-praktik dan ide-ide tertentu diperbolehkan dalam jemaat sebab sejumlah pemimpin jemaat juga melakukannya. Rasul Paulus menjelaskan kepada orang percaya di Korintus, “Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk dan penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang-orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1 Korintus 5:9-13).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *