Renungan Berjalan bersama Tuhan

Mulut yang Penuh Kerikil

Mulut yang Penuh Kerikil

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil” (Amsal 20:17)

Apakah kita tidak terkejut ketika membaca tulisan dalam kitab Amsal ini? Roti hasil tipuan sedap rasanya. Ini berarti roti hasil curian itu rasanya enak, bisa dinikmati dengan baik dan menyenangkan. Bukankah sedap itu berarti bisa dinikmati, bisa dirasakan, dan mendatangkan kesukaan. Bagaimana Amsal bisa mengatakan bahwa roti hasil tipuan itu sedap rasanya? Oh Amsal benar-benar mempunyai pengamatan yang luar biasa. Amsal bisa memahami bagaimana karakter seorang pencuri itu. Pencuri yang sungguh-sungguh menjadikan tindakan mencuri itu sebagai pekerjaannya, ia pasti senantiasa memikirkan apa yang dapat dicurinya. Tentunya bukan benda-benda yang murah dan tidak bernilai, bukan? Seorang pencuri tulen pasti mencari barang-barang yang berharga dan bernilai sehingga dapat dijual dengan harga yang tinggi.

Itulah sebabnya kitab Amsal mengatakan bahwa roti hasil tipuan sedap rasanya karena roti itu berharga, bernilai, dan pasti paling enak. Roti itu kalau dijual mendatangkan harga yang mahal dan nilai yang tinggi. Oh, pasti sedap rasanya; ada kepuasan karena mendapatkan hasil yang sangat baik. Kepuasan hati karena mencuri itu bersifat mengikat. Seorang penipu yang berhasil dan menikmati hasil tipuannya, ia akan kembali melakukan tipuan yang lebih besar dan lebih menguntungkan di kemudian hari.

“Tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil,” kata Amsal selanjutnya. Kalau kita makan nasi, lalu di antara nasi itu ada satu batu yang sangat kecil, yang ukurannya hanya setengah dari butiran nasi yang kita makan. Apa yang terjadi? Jika gigi kita menggigit batu itu, maka gigi kita pasti sangat sakit, bukan? Itu baru batu kecil yang besarnya tidak sebesar butiran nasi. Bayangkan jika mulut kita penuh dengan kerikil. Amsal melukiskan bahwa barang-barang curian itu seperti kerikil yang ada di dalam mulut kita. Bukan hasil yang menyenangkan atau yang memberikan kepuasan, melainkan sebaliknya akan mendatangkan kesakitan dan penderitaan yang amat sangat. Jelas, kejahatan yang dilakukan akan memberikan dampak yang menyakitkan dan membawa penderitaan, bukan saja pada diri sendiri, melainkan juga pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah aku supaya tidak terjebak dengan kejahatan yang terkadang bisa aku lakukan. Ketika melakukan pekerjaan, kita kerap mengalami persaingan yang ketat, kerugian, ditipu orang atau sahabat sendiri. Situasi itu sering membuat hati kita panas dan niat jahat untuk melakukan balas dendam dan memikirkan strategi untuk menjatuhkan si penipu itu. Ampunilah aku dan tolonglah aku untuk tetap takut akan Tuhan dan melakukan hal-hal yang baik.
  2. Tuhan, kami sebagai gereja selalu diperhadapkan pada masalah-masalah yang pelik dan rumit. Khususnya ketika anggota jemaat Tuhan melakukan pekerjaannya setiap hari, ada yang berbisnis, pedagang pasar, tengkulak, bahkan ada yang rentenir. Sepak terjang mereka dalam bekerja kadang kala sama dengan orang-orang dunia. Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja agar dapat memperlengkapi anggota jemaat untuk melakukan pekerjaan dengan benar, bertanggung jawab kepada Tuhan, dan takut akan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *